Pemerintah Kota Surabaya menegaskan kegiatan edukasi mainan tradisional tetap dapat hadir di kawasan Car Free Day Tunjungan, namun ruangnya perlu ditata ulang.
Pengaturan ini ditujukan agar jalur pejalan kaki dan bahu jalan tidak terhalang ketika pengunjung memadati koridor Tunjungan.
Pilihan lokasi yang disebut pemerintah antara lain jalan samping seperti Genteng Besar atau lahan privat yang telah memperoleh persetujuan pemilik.
Kegiatan nonkomersial juga dapat mengajukan izin kepada Dinas Lingkungan Hidup setempat.
Mekanisme ini membedakan antara kebebasan berekspresi dan penggunaan ruang publik yang tetap membutuhkan pengaturan keselamatan.
Menyeimbangkan Edukasi Budaya dan Akses Trotoar
Mainan tradisional memiliki nilai edukasi karena memperkenalkan keterampilan tangan, interaksi sosial, dan memori budaya kepada anak-anak.
Namun, kegiatan yang menarik kerumunan dapat mengubah arus orang secara cepat di sepanjang koridor CFD.
Peralatan yang diletakkan di jalur sempit juga berpotensi menghambat pengguna kursi roda, keluarga dengan kereta bayi, serta petugas darurat.
Penataan sebaiknya disertai informasi yang mudah dipahami oleh penyelenggara kegiatan.
Peta area, ukuran ruang, jam kegiatan, larangan berdagang bila izin bersifat nonkomersial, dan aturan kebersihan perlu ditulis secara jelas.
Tanpa kepastian seperti itu, kelompok komunitas bisa berpindah-pindah lokasi atau merasa dilarang, meski pemerintah menyatakan mendukung kegiatan tersebut.
Bagi pengunjung CFD, perubahan lokasi tidak mengurangi nilai edukasi selama aksesnya masih dekat dan aman untuk dijangkau.
Pemerintah dapat menempatkan penunjuk arah sementara tanpa menambah gangguan visual di sepanjang jalan.
Evaluasi juga perlu mempertimbangkan jumlah peserta, keluhan pejalan kaki, dan kondisi lokasi setelah kegiatan selesai berlangsung.
Uji Coba Penataan Perlu Melibatkan Komunitas
Tunjungan merupakan ruang kota dengan banyak kepentingan sekaligus: olahraga, rekreasi, ekspresi komunitas, usaha, dan mobilitas warga.
Kebijakan yang baik tidak memilih satu fungsi dengan meniadakan fungsi lain, melainkan membagi ruang secara terbuka dan adil.
Kasus edukasi mainan tradisional ini menjadi ujian kecil tentang bagaimana Surabaya menjaga budaya sekaligus memastikan trotoar berfungsi untuk semua orang.
Penyelenggara edukasi mainan perlu menjelaskan apakah kegiatan melibatkan unsur penjualan atau tidak, karena status komersial memengaruhi jenis izin dan penempatan lokasi.
Bila ada benda yang dilempar, diputar, atau memakai tali, jarak aman harus ditetapkan agar tidak mengenai pengunjung lain di sekitarnya.
Pemkot dapat menguji penataan baru selama beberapa pekan sebelum menetapkannya secara permanen.
Pengamatan arus pejalan kaki pada jam ramai akan menunjukkan apakah lokasi baru cukup terlihat tetapi tidak menghambat pergerakan warga.
Komunitas juga perlu diajak mengevaluasi kebijakan ini, karena mereka paling memahami kebutuhan demonstrasi dan aktivitas yang dijalankan.
Uji coba juga perlu mengecek akses kendaraan darurat dan jalur keluar ketika kepadatan pengunjung mencapai puncaknya pada pagi hari.



