MOJOKERTO — Dinas Kominfo Provinsi Jawa Timur mempublikasikan agenda kolaborasi “Merawat Bumi Majapahit” pada 14 Oktober 2026.
Gagasan utamanya adalah konsolidasi dari desa hingga kota, termasuk mengoptimalkan peran koperasi untuk mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pendekatan ini menghubungkan identitas kawasan Majapahit dengan kebutuhan ekonomi warga saat ini.
Nama Besar, Tapi Dinilai dari Kerja Nyata
Nama Bumi Majapahit memberi kekuatan budaya, tapi program ini bakal dinilai dari kerja yang bisa dirasakan langsung.
Pelaku UMKM butuh akses pasar, penguatan produk, pembiayaan yang sehat, dan pendampingan. Koperasi bisa jadi wadah bersama kalau tata kelolanya transparan dan layanannya sesuai kebutuhan anggota.
Desa Tidak Bekerja Sendiri
Konsolidasi lintas tingkatan berarti desa tidak bekerja sendiri. Pemerintah kabupaten, provinsi, komunitas, dan pelaku ekonomi perlu punya pembagian peran yang jelas.
Desa paham potensi dan masalah lokal, sementara pemerintah di atasnya bisa menghubungkan promosi, pelatihan, dan jaringan pemasaran yang lebih luas.
Detail Program Masih Ditunggu
Rilis resmi yang diperiksa belum merinci jumlah koperasi, daftar UMKM, nilai dukungan, atau target waktu program.
Karena itu, publik masih butuh dokumen pelaksanaan yang lebih konkret. Istilah kolaborasi harus diterjemahkan jadi kegiatan, penanggung jawab, dan ukuran hasil, biar tidak berhenti sebagai slogan.
Jaga Keaslian Cerita Sejarah
Wilayah yang memakai identitas Majapahit juga perlu menjaga keaslian cerita. Produk budaya dan destinasi tidak seharusnya memakai klaim sejarah tanpa dasar.
Pendampingan bisa melibatkan ahli sejarah, pegiat budaya, dan warga setempat, biar narasi promosi tetap menarik sekaligus bertanggung jawab.
Masalah Sehari-hari UMKM
Kerja sama akan lebih berguna kalau menyentuh masalah sehari-hari UMKM: kemasan, izin, pencatatan usaha, mutu produk, dan pengiriman sering menentukan kemampuan menjangkau pasar.
Koperasi bisa menyediakan layanan bersama, tapi harus hindari biaya yang justru membebani anggota.
Aspek lingkungan juga melekat pada kata “merawat”. Kegiatan ekonomi perlu memperhatikan sampah, penggunaan ruang, dan keberlanjutan bahan baku, apalagi kalau event-nya membawa banyak pengunjung.
Perkembangan berikutnya yang perlu diperiksa: bentuk kerja sama dari desa hingga kota, siapa penerima manfaat, dan bagaimana capaian diumumkan. Bumi Majapahit punya daya tarik sejarah yang kuat.
Pemetaan awal juga perlu membedakan produk yang sudah siap pasar dari usaha yang masih butuh pendampingan dasar, biar pelatihan tidak seragam dan tidak menjawab kebutuhan riil.
Jangan Cuma Fokus ke Lokasi Populer
Pelaku dengan masalah perizinan memerlukan dukungan berbeda dari usaha yang sudah siap memperluas distribusi ke luar Mojokerto.
Agenda bersama ini juga perlu memberi ruang bagi desa yang belum populer, supaya manfaat ekonomi tidak terkonsentrasi hanya di lokasi yang sudah dikenal wisatawan.
Rute dan kegiatan promosi bisa dirancang menghubungkan beberapa titik sekaligus, tanpa mengorbankan daya dukung lingkungan di kawasan Bumi Majapahit.



