Sebelas Tahun Kampoeng Batara, Sekolah Adat Papring Banyuwangi Rawat Budaya lewat Bambu dan Gandrung

Oleh Redaksi 3 mnt baca
Ilustrasi anak-anak belajar kesenian dan budaya di kampung berbasis bambu
Ilustrasi/Jatimverse.id

Perayaan “Sewelas”

Kampoeng Batara di Papring, Banyuwangi, merayakan usia sebelas tahun lewat kegiatan bertajuk “Hikayat Bambu Papring” pada 9 Oktober 2026.

Tema perayaannya, “Sewelas: Menjaga Tanah, Melestarikan Budaya Nusantara”, menempatkan bambu sebagai unsur yang dekat dengan kehidupan warga setempat. Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur hadir dalam acara ini.

Anak-Anak di Panggung

Pembukaan menampilkan Tari Gandrung Jajang dan musik tradisional yang dibawakan anak-anak Sekolah Adat Kampoeng Batara.

Penampilan itu menunjukkan generasi muda tak hanya menonton, tetapi belajar langsung seni yang tumbuh di komunitasnya.

Balai Bahasa Jatim hadir lewat Tim Literasi yang diwakili Amin Mulyanto, sebagai bentuk apresiasi atas inisiatif masyarakat.

Belajar dari Kearifan Lokal

Kampoeng Batara mengembangkan kegiatan belajar lewat Sekolah Adat. Kurikulumnya berpijak pada kearifan lokal, tradisi, dan potensi lingkungan.

Anak-anak diperkenalkan pada pengetahuan dan keterampilan sekaligus diajak memahami nilai budaya yang diwariskan di tengah masyarakat.

Pendekatan ini menghubungkan belajar dengan pengalaman sehari-hari, bukan hanya materi yang jauh dari lingkungan mereka.

Bambu sebagai Pintu Belajar

Bambu menjadi salah satu pintu masuk pembelajaran kontekstual. Dari bahan alam yang dikenal warga, anak bisa belajar keterampilan, hubungan manusia dengan lingkungan, dan peluang ekonomi kreatif.

Pengembangan ekonomi berbasis budaya perlu menjaga keseimbangan. Tradisi menjadi inspirasi dan identitas, sementara pemanfaatan bahan alam tetap memperhatikan kelestarian.

Dengan begitu, upaya ekonomi tidak menghilangkan makna budaya atau merusak bahan alam yang menopangnya.

Pewarisan Antargenerasi

Sekolah adat juga menjadi ruang pewarisan pengetahuan. Orang tua, pelaku budaya, dan anak-anak bertemu dalam kegiatan belajar yang mengakui pengalaman masyarakat sebagai bahan pengetahuan.

Keterlibatan itu membantu anak memahami asal-usul tradisi sekaligus memberi ruang bagi gagasan baru.

Rilis Balai Bahasa Jatim berharap kegiatan budaya turut membuka peluang kesejahteraan, memperkuat pendidikan nonformal, dan menghadirkan ruang belajar yang relevan bagi anak-anak desa.

Dampaknya bergantung pada kesinambungan kegiatan, ketersediaan pendamping, dan kesempatan warga memanfaatkan keterampilan yang dipelajari. Perayaan tahunan bisa menjadi momentum menilai apa yang sudah berjalan dan apa yang perlu diperkuat.

Mengapa Pendidikan Berbasis Komunitas Penting

Sekolah adat dan komunitas belajar di desa mengisi ruang yang tidak selalu terjangkau pendidikan formal, terutama soal pengetahuan lokal dan keterampilan hidup.

Anak yang mengenal budayanya sejak dini cenderung lebih percaya diri menghadapi perubahan zaman.

Dukungan lembaga seperti Balai Bahasa dapat memperkuat kegiatan literasi dan dokumentasi, sehingga cerita dan pengetahuan komunitas tidak hilang begitu saja ketika generasi berganti.

Bagi pengunjung, perayaan seperti ini juga memperlihatkan bahwa desa dapat menjadi ruang belajar yang menarik. Dengan pengelolaan yang baik, kegiatan budaya dapat berjalan berdampingan dengan kelestarian lingkungan sekitar.

Perayaan sebelas tahun ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya berjalan paling kuat ketika warga setempat memegang peran utama di dalamnya.

Wilayah: Tapal Kuda