Siswa SMP Moch. Sroedji Belajar Mitigasi Bencana Langsung di BPBD Jember

Oleh Redaksi 3 mnt baca
Siswa SMP mengikuti pembelajaran lapangan tentang peralatan kebencanaan di BPBD Jember
Ilustrasi/Jatimverse.id

Sebanyak 20 siswa dan lima guru SMP Moch. Sroedji mengikuti outing class di BPBD Kabupaten Jember pada 15 Oktober 2026, mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB.

Kegiatan ini memperkenalkan mitigasi bencana melalui sejumlah pos pembelajaran yang berkaitan dengan peralatan dan tugas penanganan bencana.

Pada pos pertama, peserta mengenal perahu karet, alat pelindung diri, dan dasar keselamatan di air.

Peralatan tersebut bukan sekadar benda pajangan di gudang BPBD.

Penggunaannya memerlukan pelatihan, pembagian peran, dan penilaian risiko yang matang sebelum diturunkan ke lapangan.

Siswa diajak memahami bahwa tindakan menolong korban banjir atau tenggelam tidak boleh dilakukan tanpa kemampuan dan perlengkapan yang sesuai.

Belajar Batas antara Kesiapan Warga dan Tugas Petugas

Pos logistik menunjukkan bagaimana bantuan disiapkan dan dikelola dalam situasi darurat.

Ketepatan jenis barang sama pentingnya dengan kecepatan pengiriman saat bencana terjadi.

Makanan, air, perlengkapan kebersihan, dan kebutuhan kelompok rentan perlu dicatat agar distribusi bantuan tidak menumpuk pada satu tempat saja.

Gudang peralatan juga diperkenalkan sebagai bagian dari kesiapan operasional BPBD.

Peserta turut belajar keselamatan penggunaan gergaji mesin serta penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Dua materi ini menekankan batas yang jelas antara pengetahuan dasar untuk warga dan pekerjaan teknis bagi petugas terlatih.

Anak-anak diajarkan mengenali bahaya, menjauh dari lokasi, memberi informasi yang tepat, dan mengikuti arahan petugas di lapangan.

Mereka tidak diarahkan untuk melakukan operasi berisiko secara langsung.

Pembelajaran langsung semacam ini membantu siswa menghubungkan teori bencana dengan kondisi lingkungan sekitar mereka.

Setelah kegiatan, sekolah dapat menindaklanjuti dengan membuat peta jalur evakuasi, titik kumpul, daftar kontak darurat, dan latihan yang disesuaikan ancaman di sekitar sekolah.

Kebiasaan Siap Lebih Penting daripada Rasa Takut

Nilai utama outing class ini terletak pada kebiasaan siap, bukan menumbuhkan rasa takut berlebihan.

Mitigasi dimulai dari mengenali ancaman, mengetahui cara menerima peringatan, serta memahami tindakan aman bagi diri sendiri dan orang lain.

Kegiatan selama tiga jam ini tidak membuat siswa menjadi petugas penyelamat, tetapi dapat menumbuhkan disiplin keselamatan dan kemampuan menyampaikan informasi yang benar saat keadaan darurat terjadi.

Sekolah dapat menguji pemahaman siswa lewat simulasi yang aman, misalnya meminta mereka membaca jalur evakuasi dan menyusun pesan singkat berisi lokasi serta kondisi kejadian.

Latihan komunikasi semacam ini penting karena laporan yang kabur dapat memperlambat datangnya bantuan.

Materi juga sebaiknya disesuaikan dengan ancaman khas Jember, seperti banjir, longsor, gempa, kebakaran, atau cuaca ekstrem, sebab setiap ancaman memiliki tindakan awal yang berbeda.

Orang tua dapat memperkuat materi dengan membicarakan titik temu keluarga ketika komunikasi terputus saat bencana.

Tas siaga tidak harus mahal, namun perlu memuat dokumen penting, obat rutin, air, senter, dan kebutuhan khusus anggota keluarga, serta diperiksa secara berkala agar tetap layak digunakan.

Wilayah: Tapal Kuda