Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya memantau kualitas udara melalui Stasiun Pemantau Kualitas Udara Ambien di Tandes.
Dari tujuh parameter yang dibaca, partikel halus PM2.5 menjadi perhatian karena pada sejumlah periode antara pukul 06.00 dan 09.00 WIB berada dalam kategori tidak sehat.
PM2.5 berukuran sangat kecil dan dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan manusia.
Risiko yang lebih besar dirasakan oleh anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru.
Kategori kualitas udara bukan merupakan diagnosis perorangan, melainkan panduan untuk menyesuaikan aktivitas dan mengurangi paparan ketika konsentrasi partikel meningkat.
Perbedaan Standar ISPU dan Aplikasi AQI
DLH menjelaskan perbedaan antara standar nasional Indeks Standar Pencemar Udara dan pembacaan aplikasi yang memakai US AQI.
Ambang batas dan metode kategorisasi dapat berbeda, sehingga dua aplikasi mungkin menampilkan warna yang tidak sama pada waktu yang berdekatan.
Warga sebaiknya memeriksa sumber data, lokasi sensor, waktu pembaruan, dan parameter yang paling dominan sebelum mengambil keputusan.
Menurut pemantauan pemerintah kota, kondisi Surabaya tidak atau hanya sangat sedikit dipengaruhi asap kebakaran dari Sumatra dan Kalimantan karena arah angin yang berlaku saat ini.
Faktor lokal yang disebut meliputi musim kering, transportasi, kegiatan industri, dan pembakaran terbuka di beberapa titik.
Penjelasan ini berarti pengurangan emisi lokal tetap relevan bagi kualitas udara kota ke depannya.
Saat angka memburuk, warga disarankan mengurangi aktivitas berat di luar ruang dan memakai masker N95 atau KN95 bila harus berada di luar.
Menutup jendela ketika udara di luar buruk serta menggunakan penyaring udara bila tersedia juga disarankan sebagai langkah pencegahan.
Kelompok rentan perlu lebih cepat menyesuaikan aktivitas dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila muncul keluhan tertentu.
Data Berkala Dibutuhkan agar Keputusan Lebih Tepat
Satu pembacaan saja tidak cukup untuk menggambarkan kondisi seluruh kota secara utuh.
Tandes hanya mewakili lokasi stasiun, sedangkan kepadatan lalu lintas dan sumber emisi bisa berbeda antarwilayah di Surabaya.
Publik membutuhkan data berkala dan mudah dibaca, termasuk pola pada jam-jam puncak kepadatan.
Dengan informasi yang konsisten, keputusan sekolah, pekerja luar ruang, dan keluarga dapat didasarkan pada kondisi aktual, bukan hanya kesan visual terhadap langit.
Pekerja luar ruang memerlukan perhatian khusus karena mereka tidak selalu dapat memindahkan jam kerja begitu saja.
Perusahaan dan instansi dapat menyediakan jeda istirahat, air minum, masker yang sesuai, serta penyesuaian tugas ketika indeks kualitas udara memburuk.
Sekolah juga dapat membatasi olahraga di luar ruang berdasarkan data pada jam kegiatan, bukan hanya mengandalkan prakiraan harian secara umum.
Keluhan sesak, nyeri dada, pusing berat, atau memburuknya penyakit pernapasan tidak cukup ditangani hanya dengan membaca indeks kualitas udara semata.



