Festival Bulan Sawunggaling Meriahkan Lidah Wetan Surabaya hingga 18 Oktober

Oleh Redaksi 3 mnt baca
Ilustrasi festival budaya kampung dengan penari dan tumpeng
Ilustrasi/Jatimverse.id

Dua Pekan Seni dan Tradisi

Festival Bulan Sawunggaling digelar Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Lidah Wetan pada 4–18 Oktober 2026 di kawasan Lidah Wetan, Surabaya.

Rangkaiannya memadukan seni pertunjukan, tradisi, doa bersama, dan partisipasi warga. Jadwalnya disampaikan Ketua Sembrani Bumi Nusantara, Andy Bocor, dalam siaran Radio Suara Surabaya, Jumat, 9 Oktober pukul 14.15 WIB.

Agenda yang Sudah dan Akan Berjalan

Festival dibuka 4 Oktober dengan kirab budaya dan tari remo massal yang diikuti sekitar 1.500 penari.

Pada 7 Oktober, panitia menggelar pertunjukan campursari Siswo Laras.

Minggu, 11 Oktober, pagelaran seni digelar bekerja sama dengan Universitas Negeri Surabaya. Andy menyebut akan ada “tari budaya yang diikuti oleh 250 penari anak-anak”, disusul wayang kulit dan campursari pada malam hari.

Sabtu, 10 Oktober, panitia merencanakan khataman Al-Qur’an yang diikuti sekitar 1.000 pembaca, bersama pembagian 1.000 tumpeng.

Pekan Terakhir

Untuk 14–18 Oktober, agenda yang diumumkan meliputi sarasehan budaya, istiqomah haul akbar, Sayembara Jemparingan Adipati Surabaya, dan Festival Salam Surabaya.

Sebagian kegiatan berlangsung di kawasan Lidah Wetan. Karena melibatkan banyak peserta di ruang publik, panitia sudah berkoordinasi dengan pihak terkait soal penutupan jalan di ruas tertentu.

Mengenalkan Legenda ke Warga

Festival ini membawa legenda Sawunggaling dan kebudayaan lokal ke dalam rangkaian acara yang bisa diikuti warga.

Pertunjukan tari dan musik mempertemukan pelaku seni dengan penonton, sementara sarasehan memberi ruang membicarakan sejarah dan makna tradisi.

Keterlibatan anak-anak membuka kesempatan bagi generasi muda mengenal kesenian lewat praktik langsung.

Peran Kampung dan Pengaturan Ruang

Penyelenggaraan di tingkat kampung memberi peran penting kepada komunitas setempat dalam menjaga tradisi.

Agar kegiatan dapat diakses luas, informasi perubahan lalu lintas, lokasi, dan jadwal perlu disebarkan jelas. Pengaturan ruang juga perlu mempertimbangkan warga yang tinggal dan beraktivitas di sekitar lokasi, terutama saat acara menarik banyak pengunjung.

Festival berlangsung hingga 18 Oktober, sehingga warga bisa memilih agenda yang sesuai.

Keberlanjutannya dapat dilihat dari partisipasi, keterlibatan generasi muda, dan kemampuan komunitas menjaga kegiatan budaya setelah festival usai.

Budaya Kampung sebagai Daya Tarik

Festival berbasis kampung memberi kesempatan bagi warga menjadi pelaku sekaligus tuan rumah. Kegiatan seperti ini juga dapat menggerakkan ekonomi sekitar, mulai dari pedagang makanan hingga penyedia perlengkapan acara.

Bagi pengunjung dari luar kelurahan, festival menjadi cara mengenal sisi lain Surabaya yang tidak hanya identik dengan pusat kota.

Panitia dan warga dapat memanfaatkan momentum ini untuk mencatat agenda yang paling diminati sebagai bahan perencanaan festival berikutnya.

Bagi warga yang ingin hadir, mengecek pengumuman panitia dan petugas lalu lintas sebelum berangkat adalah langkah praktis. Dengan begitu, kunjungan ke festival tidak terganggu penutupan ruas jalan tertentu.

Wilayah: Surabaya Raya