Nota Penjelasan Bupati di Rapat Paripurna
Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD Kabupaten Sumenep 2027 resmi dimulai.
Tahap awalnya ditandai penyampaian nota penjelasan bupati dalam rapat paripurna DPRD pada Senin, 12 Oktober 2026, pukul 09.00 WIB.
Rapat dipimpin Ketua DPRD Sumenep Zainal Arifin. Hadir pula wakil bupati, Forkopimda, dan kepala perangkat daerah.
Pembahasan ini menentukan hubungan antara target pembangunan, program perangkat daerah, dan kemampuan keuangan untuk tahun berikutnya.
Arah Pembangunan 2027
Arah pembangunan 2027 difokuskan pada sumber daya manusia yang produktif dan berdaya saing guna mendukung ekonomi berkualitas.
Dasarnya adalah RPJMD Sumenep 2025-2029 yang dijabarkan melalui RKPD. Artinya, usulan anggaran seharusnya bisa ditelusuri sampai target kinerja yang sudah disepakati.
Ekonomi Sumenep masih ditopang pertanian, kehutanan, perikanan, perdagangan, serta industri kecil dan menengah. Pemerintah juga melihat pariwisata, UMKM, ekonomi kreatif, dan investasi sebagai peluang.
Belanja daerah perlu menghubungkan potensi itu dengan infrastruktur, keterampilan, dan akses pasar.
Tantangan Kemiskinan dan Kepulauan
Karakter daratan dan kepulauan menjadi persoalan khusus. Biaya perjalanan, distribusi barang, dan pelayanan publik tidak sama antarpulau.
Bila anggaran dibagi rata tanpa melihat hambatan geografis, wilayah dengan akses tersulit bisa terus tertinggal.
Rilis DPRD menyebut kemiskinan Sumenep masih di atas rata-rata Jawa Timur. Fakta itu semestinya membuat pembahasan anggaran fokus pada hasil terukur.
Ukurannya antara lain jumlah warga yang keluar dari kemiskinan, layanan dasar yang membaik, pekerjaan yang tercipta, dan turunnya biaya akses bagi masyarakat kepulauan.
Tenggat, Transfer Pusat, dan Keterbukaan
Ketua DPRD menekankan persetujuan APBD paling lambat satu bulan sebelum tahun anggaran dimulai. Ketepatan waktu penting agar program tidak tertunda, tetapi kecepatan tidak boleh mengurangi pemeriksaan.
Fraksi dan komisi tetap perlu menguji asumsi pendapatan, belanja, dan manfaat tiap program. Perubahan transfer pusat juga masih memengaruhi penyusunan pendapatan dan belanja.
Karena itu pemerintah daerah perlu menyiapkan prioritas yang jelas dan melindungi program pelayanan dasar saat ruang fiskal berubah.
Angka final belum tersedia karena pembahasan baru dimulai. Warga Sumenep berhak tahu bagaimana APBD menjawab kemiskinan, konektivitas kepulauan, ekonomi lokal, dan mutu SDM.
Dokumen pembahasan sebaiknya disajikan dalam ringkasan yang mudah dibaca, agar warga bisa mengikuti prosesnya sebelum pengesahan.
Cara Warga Mengawal Proses
Warga Sumenep dapat mengikuti pembahasan lewat siaran pers DPRD, kanal resmi pemerintah daerah, dan forum konsultasi. Informasi yang perlu dicari antara lain besaran belanja pegawai dibanding belanja langsung, alokasi untuk layanan dasar, dan program bagi wilayah kepulauan.
Perbandingan dengan tahun sebelumnya membantu melihat arah perubahan. Jika alokasi untuk pengentasan kemiskinan naik, publik perlu tahu program apa yang dibiayai dan siapa penerimanya.
Pembahasan APBD bukan urusan elite semata. Hasilnya menentukan jalan, sekolah, layanan kesehatan, dan bantuan yang dirasakan warga sepanjang 2027.



