Kolam Terpal Lele dan Nila di Katangtengah Dipantau untuk Ketahanan Pangan

Oleh Redaksi 3 mnt baca
Bhabinkamtibmas memantau kolam terpal budidaya lele dan nila warga Katangtengah Nganjuk
Ilustrasi/Jatimverse.id

Bhabinkamtibmas Desa Katangtengah, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, memantau budidaya lele dan nila milik warga pada 15 Oktober 2026.

Usaha ini menggunakan kolam terpal berbentuk bulat dan ditempatkan sebagai bagian dari kegiatan ekonomi keluarga sekaligus penyediaan protein ikan bagi warga.

Dalam kunjungan tersebut, Aiptu Bayu berdialog dengan peternak mengenai proses pemeliharaan, efisiensi kolam, dan potensi hasil panen.

Kolam terpal tidak membutuhkan bangunan permanen dan dapat disesuaikan dengan kondisi lahan yang tersedia.

Keunggulan tersebut menurunkan hambatan awal bagi warga, tetapi tidak menghapus kebutuhan perencanaan teknis yang matang.

Kualitas Air Jadi Faktor Penentu Keberhasilan

Kualitas air menjadi faktor utama dalam keberhasilan budidaya kolam terpal.

Kepadatan ikan, sisa pakan, suhu, dan pergantian air memengaruhi kesehatan ikan yang dibudidayakan.

Peternak perlu mengenali perubahan warna, bau, dan perilaku ikan sebagai tanda awal masalah.

Pemberian pakan berlebihan tidak hanya menambah biaya, tetapi juga dapat memperburuk kualitas air di dalam kolam.

Catatan harian membantu peternak menemukan penyebab bila pertumbuhan ikan melambat atau tingkat kematian meningkat.

Lele dan nila memiliki kebutuhan pemeliharaan yang tidak sepenuhnya sama satu sama lain.

Penentuan jenis ikan, ukuran benih, masa panen, serta pasar penjualan sebaiknya dihitung sejak awal usaha dimulai.

Hasil panen harus memiliki pembeli yang jelas, baik rumah tangga, warung, pengepul, maupun pasar lokal di sekitar desa.

Tanpa rencana penjualan yang matang, produksi yang baik belum tentu memberi keuntungan bagi peternak.

Kunjungan polisi ini bersifat pemantauan dan komunikasi, bukan pengganti peran penyuluh perikanan yang berwenang.

Pencatatan Sederhana untuk Keputusan Usaha yang Lebih Terukur

Jika warga memerlukan diagnosis penyakit, pengujian air, atau rancangan pakan, koordinasi dengan dinas teknis tetap dibutuhkan.

Bhabinkamtibmas dapat membantu menghubungkan persoalan di desa dengan instansi yang berwenang menanganinya.

Usaha kolam terpal di Katangtengah menarik karena skalanya dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing keluarga.

Keberlanjutan usaha perlu diukur melalui angka: jumlah tebar, biaya pakan, tingkat kematian, berat panen, harga jual, dan laba bersih yang diperoleh.

Kolam bulat juga memerlukan penempatan pada permukaan yang rata dan struktur penahan yang aman agar tidak mudah rusak.

Saluran pembuangan air harus direncanakan dengan baik agar tidak mencemari halaman atau saluran umum di sekitarnya.

Pencatatan usaha tidak harus rumit; peternak dapat menulis tanggal tebar, jumlah ikan, pakan harian, mortalitas, serta hasil penjualan secara sederhana.

Dari catatan itu, biaya per kilogram panen dapat dihitung untuk menjadi dasar permintaan saran kepada penyuluh perikanan.

Benih yang sehat dan berasal dari sumber yang jelas akan mengurangi risiko penyakit pada kolam sejak awal masa pemeliharaan.

Pengembangan skala usaha sebaiknya menunggu setidaknya satu siklus panen yang tercatat lengkap, sebelum peternak menambah jumlah kolam.

Harga benih dan pakan juga perlu dicatat pada tanggal pembelian, karena keduanya dapat berubah dari waktu ke waktu.

Wilayah: Mataraman