Legislator Jember Laporkan Hilangnya Dua Benda Cagar Budaya

Oleh Redaksi 3 mnt baca
Ilustrasi situs cagar budaya di Jember
Ilustrasi/Jatimverse.id

Seorang legislator di Jember melaporkan kehilangan dua benda bersejarah ke pihak kepolisian.

Laporan ini muncul setelah penelusuran seorang sejarawan lokal pada 22 September mengungkap hilangnya benda-benda tersebut.

Batu Yoni di Asta Pocangsari

Salah satu benda yang disebut hilang adalah batu yoni yang berada di kawasan makam kuno Asta Pocangsari, atau kadang ditulis Mocangsari.

Batu yoni sendiri dikenal sebagai artefak yang lazim ditemukan di situs peninggalan masa Hindu-Buddha di Nusantara.

Kehilangan benda cagar budaya seperti ini tentu memprihatinkan mengingat nilai sejarah yang dikandungnya sulit tergantikan.

Baru Tahap Laporan Awal

Laporan ke polisi ini masih menjadi langkah awal, belum sampai pada kesimpulan soal pelaku atau kronologi kejadian.

Penanganan benda bersejarah semacam ini butuh pencatatan lokasi yang rinci, dokumentasi kondisi terakhir, dan koordinasi dengan otoritas cagar budaya.

Peran wakil rakyat dalam kasus ini juga perlu dilihat lebih luas, yaitu soal pengawasan perlindungan situs bersejarah di luar kasus ini saja.

Perlu Pengamanan Situs yang Lebih Baik

Kasus hilangnya benda cagar budaya bukan hal baru terjadi di berbagai daerah, termasuk yang punya banyak situs peninggalan sejarah seperti Jember.

Minimnya pengamanan fisik di lokasi situs kerap disebut sebagai salah satu celah yang dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab.

Koordinasi antara pemerintah daerah, dinas kebudayaan, dan warga sekitar situs jadi kunci mencegah kejadian serupa terulang.

Publik tentu berharap proses penyelidikan polisi bisa mengungkap kronologi kehilangan sekaligus mendorong perbaikan sistem pengamanan situs bersejarah di Jember.

Jatimverse.ID akan mengikuti perkembangan penyelidikan kasus ini pada pemberitaan selanjutnya.

Pentingnya Basis Data Cagar Budaya

Kasus kehilangan benda cagar budaya sering terungkap justru karena tidak ada basis data lengkap yang mencatat kondisi terakhir tiap benda.

Dinas kebudayaan di berbagai daerah didorong memiliki katalog digital lengkap dengan foto dan lokasi tiap benda cagar budaya yang terdaftar.

Basis data semacam ini mempermudah proses pelacakan jika suatu saat terjadi kehilangan atau kerusakan pada benda bersejarah tersebut.

Peran Warga dalam Menjaga Situs

Warga sekitar situs sejarah sebenarnya bisa berperan aktif sebagai mata dan telinga tambahan untuk mengawasi kondisi benda cagar budaya.

Pelaporan cepat ke pihak berwenang saat ada kejanggalan di lokasi situs bisa mempercepat proses pencegahan maupun penyelidikan.

Edukasi soal pentingnya pelestarian cagar budaya sejak usia sekolah juga dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memiliki warga terhadap warisan sejarah daerahnya.

Kasus semacam ini juga jadi pengingat pentingnya inventarisasi rutin benda cagar budaya oleh dinas terkait di setiap kabupaten dan kota.

Tanpa pencatatan yang rapi, potensi kehilangan benda bersejarah lain di masa depan tetap terbuka lebar.

Kolaborasi dengan sejarawan dan komunitas pemerhati budaya lokal juga bisa memperkuat upaya pelacakan benda-benda bersejarah yang hilang.

Wilayah: Tapal Kuda