Layanan IKD Lumajang Mendatangi Warga, Akses Digital Masih Perlu Diperluas

Oleh Redaksi 3 mnt baca
Petugas pelayanan membantu warga menggunakan ponsel di meja layanan terbuka.
Ilustrasi/Jatimverse.id

Layanan Adminduk Mendatangi Warga Lumajang

Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Lumajang membawa layanan administrasi kependudukan ke tempat warga beraktivitas.

Pemerintah kabupaten melaporkan pelayanan di area car free day serta sekolah sepanjang 2026.

Aktivasi Identitas Kependudukan Digital atau IKD menjadi salah satu layanan yang ditawarkan.

Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengurangi kebutuhan warga datang langsung ke kantor dinas.

Lima Layanan Tersedia di Area Car Free Day

Di area car free day, petugas menyediakan lima jenis layanan kependudukan sekaligus.

Layanan itu meliputi penerbitan Kartu Keluarga, akta kelahiran, dan akta kematian.

Perekaman KTP elektronik dan aktivasi IKD juga tersedia dalam satu kegiatan.

Pemerintah daerah menyebut 67 warga mengaktifkan IKD pada kegiatan tersebut.

Angka itu menggambarkan hasil satu kegiatan yang dilaporkan, bukan jumlah seluruh pengguna baru di kabupaten.

Perbedaan cakupan ini perlu dijaga agar ukuran keberhasilan program tidak dibaca berlebihan.

Pelajar Rasakan Kemudahan Layanan di Sekolah

Pelayanan juga mendatangi sekolah-sekolah di wilayah Lumajang.

Pada 11 Agustus 2026, tim Disdukcapil datang ke SMAN Candipuro untuk perekaman KTP elektronik dan aktivasi identitas digital.

Layanan itu diperuntukkan bagi para pelajar yang membutuhkan dokumen kependudukan.

Siswa bernama Irma Suryani menggambarkan kemudahan itu secara langsung.

“Enak banget sih, jadi nggak perlu izin lagi buat ke kantor Dukcapil,” katanya.

Kutipan itu menjelaskan manfaat praktis bagi pelajar yang biasanya harus menyesuaikan jam sekolah dengan jam pelayanan kantor.

Menjangkau Lansia dan Penyandang Disabilitas

Kegiatan serupa juga digelar di SMK Negeri Tekung, SMK Negeri Klakah, dan SMKN Tempursari pada Agustus hingga September.

Pemerintah daerah turut menyebut layanan jemput bola bagi warga lanjut usia dan penyandang disabilitas.

Kebutuhan kelompok ini berbeda dari pelajar pada umumnya.

Hambatan mereka bisa berupa jarak, mobilitas, atau kesulitan menggunakan perangkat digital.

Karena itu, membawa petugas lebih dekat saja belum cukup tanpa pendampingan penggunaan aplikasi.

Pilihan layanan secara langsung tetap harus disediakan bagi warga yang kesulitan mengakses layanan digital.

Tingkat Aktivasi Masih Rendah

Kepala Disdukcapil Lumajang Arif Heri Kurniawan menyampaikan data terbaru soal aktivasi IKD.

Per 23 September 2026, terdapat 44.975 pengguna IKD dari 864.599 rekam dinamis KTP.

Angka itu setara sekitar 5,20 persen dari total warga yang memiliki rekam dinamis KTP.

Data ini menunjukkan layanan digital masih berada pada tahap perluasan di Lumajang.

Ukuran keberhasilan program sebaiknya tidak hanya dilihat dari jumlah aktivasi semata.

Warga perlu dapat benar-benar menggunakan identitasnya ketika mengakses berbagai layanan publik.

Pemahaman soal keamanan akun digital juga penting agar warga tidak mudah dirugikan.

Bantuan saat ponsel atau koneksi bermasalah pun perlu tetap tersedia bagi warga.

Belajar dari Masalah di Lapangan

Pola jemput bola memungkinkan pemerintah melihat langsung masalah yang muncul di lapangan.

Jika banyak warga tidak memiliki perangkat yang memadai, perlu ada cara pelayanan yang tetap inklusif.

Jika warga kesulitan melakukan aktivasi, petugas dapat menjelaskan langkahnya secara langsung di tempat.

Bila data kependudukan belum sesuai, pembaruan dokumen dasar mungkin lebih mendesak daripada menambah jumlah akun digital.

Data Berkala yang Masih Dibutuhkan Publik

Untuk menilai dampaknya, publik membutuhkan laporan berkala yang jelas dan terukur.

Laporan itu sebaiknya memisahkan jumlah warga yang dilayani, jenis layanan, dan aktivasi yang berhasil.

Keluhan warga yang berhasil diselesaikan juga perlu dicatat dan dipublikasikan secara berkala.

Data per kecamatan dan kelompok sasaran akan membantu melihat jangkauan layanan secara lebih tepat.

Digitalisasi baru terasa manfaatnya ketika jarak menuju pelayanan berkurang bagi warga.

Manfaat itu tidak boleh memindahkan beban kesulitan baru ke layar ponsel warga.

Wilayah: Tapal Kuda