Kunjungan Kerja ke Koperasi Sapi Perah
Ketua Komisi IV DPR RI mengunjungi Koperasi Usaha Tani Ternak (KUTT) Sukamakmur di Grati, Kabupaten Pasuruan.
Kunjungan berlangsung pada 28 September 2026 pukul 17.44 WIB dan menyoroti persoalan produksi susu segar nasional.
Produksi susu segar nasional saat ini masih bergantung pada pasokan impor dari luar negeri.
Dalam kunjungan itu, rombongan melihat langsung produksi di kandang dan berdialog dengan peternak sapi perah, koperasi susu, pemerintah daerah, serta pelaku industri.
Pertemuan tersebut membuka ruang untuk membahas hambatan produksi susu dari tingkat peternakan hingga pasar.
Produktivitas Tak Cukup dengan Menambah Sapi
Peningkatan produksi susu tidak cukup dilakukan hanya dengan menambah jumlah populasi sapi perah.
Produktivitas sapi perah dipengaruhi mutu bibit, pakan, kesehatan hewan, kenyamanan kandang, dan manajemen reproduksi.
Ketersediaan air, tenaga kerja, serta penanganan susu setelah proses pemerahan juga ikut menentukan hasil akhir.
Peternak memerlukan layanan dokter hewan, akses pembiayaan, dan pendampingan yang konsisten dari pemerintah maupun koperasi.
Tanpa perbaikan menyeluruh pada seluruh aspek ini, penambahan populasi sapi hanya akan meningkatkan biaya tanpa hasil yang sebanding.
Posisi Strategis Koperasi dalam Rantai Pasok
Koperasi mempunyai posisi strategis dalam rantai pasok susu segar dari peternak hingga industri.
Koperasi dapat mengumpulkan susu, menjaga rantai dingin, melakukan pengujian mutu, dan menyediakan pakan bagi anggotanya.
Koperasi juga berperan menyalurkan pembiayaan dan bernegosiasi dengan pihak industri atas nama para peternak.
Posisi tawar peternak akan lebih kuat bila formula harga bersifat transparan dan kualitas susu dapat diukur secara adil.
Pembayaran yang terlalu lambat atau harga yang tidak menutup biaya produksi dapat mengurangi minat generasi muda meneruskan usaha ini.
Peluang Teknologi Genetika
Sumber resmi pemerintah kabupaten menyebut adanya peluang pemanfaatan teknologi genetika untuk meningkatkan kualitas ternak sapi perah.
Teknologi ini membutuhkan tata kelola data yang baik serta tenaga terlatih untuk menerapkannya secara tepat.
Perhatian pada kesejahteraan hewan dan keragaman genetik juga perlu diperhatikan dalam penerapan teknologi ini.
Pemilihan bibit sapi harus disesuaikan dengan iklim, kemampuan pakan, dan kondisi peternak lokal di Grati.
Teknologi semacam ini tidak boleh dipromosikan sebagai jalan pintas yang mengabaikan kebutuhan layanan dasar peternakan.
Kunci Memperkecil Kesenjangan Nasional
Kesenjangan produksi susu nasional hanya dapat diperkecil jika kebijakan impor, insentif industri, dan penguatan koperasi bergerak searah.
Kebutuhan peternak di lapangan juga harus menjadi bagian dari pergerakan kebijakan ini secara bersamaan.
Kunjungan kerja semacam ini akan bernilai ketika menghasilkan tindak lanjut yang terukur bagi peternak.
Tindak lanjut itu mencakup perbaikan harga, produktivitas, kesehatan ternak, dan kepastian serapan hasil produksi oleh industri.
Grati memiliki basis peternakan dan koperasi yang dapat menjadi laboratorium kebijakan, asalkan suara peternak tetap menjadi pusat pengambilan keputusan.



