Festival Ekonomi dan Keuangan Syariah (Fesyar) Jawa 2026 di Surabaya mencatat transaksi perdagangan Rp35,5 miliar hingga Minggu, 27 September.
Bank Indonesia menyebut angka ini melampaui target awal Rp35 miliar, meski kegiatan belum berakhir saat keterangan tersebut disampaikan.
Tiga Angka, Tiga Cerita Berbeda
Selain transaksi perdagangan, realisasi pembiayaan tercatat Rp56 miliar, di atas target Rp48 miliar.
Di sisi lain, penjualan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) baru mencapai Rp2,1 miliar dari target Rp7,3 miliar.
Ketiga angka ini menggambarkan kegiatan ekonomi yang berbeda dan tidak bisa begitu saja dijumlahkan menjadi satu ukuran manfaat.
Fokus BI: Rantai Nilai Halal
Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Timur Rifki Ismal menekankan pentingnya penguatan rantai nilai halal, bukan sekadar nilai transaksi selama acara.
Ia menjelaskan tiga arah pengembangan ke depan: penguatan ekosistem halal, pembiayaan syariah yang kompetitif, dan peningkatan literasi keuangan.
Digelar Tiga Hari, Diikuti Ratusan UMKM
Fesyar berlangsung pada 25–27 September di Grand City Mall, Surabaya, dan menghadirkan lebih dari 300 UMKM.
Banyaknya pelaku usaha yang terlibat membuat ukuran keberhasilan acara ini lebih luas dari sekadar belanja pengunjung selama tiga hari.
Akses pasar berulang, sertifikasi produk, kemampuan produksi, dan biaya pembiayaan menjadi faktor yang ikut menentukan manfaat jangka panjang setelah stan pameran dibongkar.
Kesenjangan Penjualan UMKM Jadi Sorotan
Kesenjangan antara target penjualan UMKM dan pencapaian sementara menjadi catatan penting di tengah pencapaian target perdagangan dan pembiayaan yang lebih besar.
Sertifikasi halal disebut sebagai salah satu pekerjaan penguatan bagi pelaku usaha kecil, karena sertifikat ini dapat membuka peluang masuk ke rantai pasok yang lebih luas.
Dua Kabar dari Fesyar 2026
Fesyar tahun ini memberi dua kabar sekaligus: target perdagangan dan pembiayaan telah terlampaui, sementara penjualan langsung UMKM masih tertinggal dari sasaran saat data ini disampaikan.
Bank Indonesia dan penyelenggara diharapkan mempublikasikan laporan akhir yang memisahkan ketiga ukuran ini agar publik dapat melihat capaian festival secara lebih jernih.
Dengan begitu, manfaat Fesyar bagi pelaku usaha Jawa Timur dapat dinilai lebih dari sekadar keramaian selama akhir pekan penyelenggaraan.
Manfaat Jangka Panjang Jadi Ukuran Sesungguhnya
Akses pasar yang berulang bagi pelaku UMKM dinilai lebih penting daripada sekadar ramainya pengunjung selama hari pelaksanaan festival.
Pertemuan bisnis yang terjalin di Fesyar berpotensi berlanjut menjadi kerja sama dagang dalam beberapa bulan setelah acara selesai.
Bank Indonesia bersama pemerintah daerah diharapkan terus mendampingi UMKM peserta agar peluang yang terbuka selama Fesyar tidak berhenti begitu saja setelah acara usai.
Penguatan literasi keuangan syariah bagi pelaku usaha kecil dinilai dapat mempercepat mereka mengakses pembiayaan yang kompetitif pada tahun-tahun berikutnya.
Surabaya sebagai lokasi penyelenggaraan turut mendapat manfaat dari kunjungan peserta dan pengunjung dari berbagai daerah di Jawa Timur selama tiga hari acara.



