Jawa Timur diproyeksikan menghasilkan 9,86 juta ton gabah kering giling hingga Oktober, naik sekitar 5,13 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini disampaikan Gubernur Khofifah Indar Parawansa bertepatan dengan Hari Tani Nasional.
Angkanya Dari Mana?
Luas panen Januari–Oktober diperkirakan 1,74 juta hektare, naik dari sekitar 1,66 juta hektare periode sebelumnya. Produksi beras diperkirakan 5,69 juta ton, dibanding 5,41 juta ton setahun sebelumnya. Angka ini adalah proyeksi hingga Oktober, bukan hasil panen yang sudah sepenuhnya masuk gudang. Kabupaten dengan cuaca, irigasi, jenis tanah, dan jadwal tanam yang berbeda mungkin mengalami hasil yang tidak sama, jadi kenaikan provinsi belum tentu merata di semua daerah.
Naik Produksi, Belum Tentu Naik Untung
Buat keluarga petani, tonase provinsi bukan satu-satunya ukuran kesejahteraan. Pendapatan bergantung pada harga gabah saat panen, biaya pupuk, bahan bakar, upah kerja, sewa lahan, dan potensi kehilangan hasil. Kalau volume naik tapi harga di tingkat petani turun tajam, keuntungan bersih bisa tetap tertekan.
Kenaikan pasokan juga relevan buat penggilingan, pedagang, dan konsumen—tapi tidak otomatis bikin harga beras di semua kota turun bareng, karena pengeringan, penyimpanan, dan distribusi ikut menentukan berapa gabah berubah jadi beras yang tersedia. Yang lebih penting dipantau ke depan: apakah kenaikan produksi ini beriringan dengan pendapatan bersih petani yang lebih baik, terutama di sentra-sentra seperti Mataraman, Tapal Kuda, Pantura, dan Madura, bukan cuma dilihat dari angka provinsi semata.
Pemerintah provinsi menyebut dukungan dari petani, penyuluh, dan kelompok tani sebagai bagian dari capaian produksi ini. Klaim itu akan lebih bermakna kalau dilengkapi rincian program yang bisa diukur langsung—seperti luas layanan irigasi, jenis benih yang dipakai, akses alat panen, dan biaya produksi per hektare. Petani di daerah rawan kekeringan biasanya lebih butuh kepastian air dan jadwal tanam yang jelas ketimbang sekadar klaim posisi Jatim dalam peringkat produksi nasional.
Warga yang ingin memantau perkembangan harga gabah dan beras di daerahnya bisa mengecek data resmi dari Dinas Pertanian setempat atau pasar induk terdekat, karena harga di tingkat provinsi belum tentu mencerminkan harga riil di pasar kecamatan. Perbandingan harga antarwaktu dan antardaerah ini penting bagi petani maupun konsumen supaya keputusan jual-beli tidak hanya berdasar angka besar yang dipublikasikan pemerintah provinsi.
Angka produksi ini akan terus dipantau Jatimverse.id hingga panen benar-benar rampung pada akhir Oktober, sekaligus membandingkannya dengan pergerakan harga gabah di tingkat petani supaya klaim kenaikan produksi ini punya makna nyata bagi kesejahteraan.
Pembaca yang punya pengalaman langsung soal harga gabah di daerahnya masing-masing bisa berbagi informasi ke redaksi, karena cerita dari lapangan sering kali lebih menggambarkan kondisi riil dibanding angka rata-rata provinsi semata.



