Perempuan Pesisir Kenjeran Ikuti Pelatihan Olah Pangan demi Tambah Pendapatan Keluarga

Oleh Redaksi 3 mnt baca
Ilustrasi realistis editorial mengenai pelatihan olah pangan bagi perempuan pesisir Kenjeran Surabaya, tanpa teks atau logo.
Ilustrasi/Jatimverse.id

Perempuan pesisir di RW 02 Kejawan Lor, Kelurahan Kenjeran, Surabaya, mengikuti diskusi kelompok terarah dan pelatihan pengolahan pangan untuk memperkuat kemampuan ekonomi rumah tangga mereka.

Kolaborasi Pemprov dan Kampus

Kegiatan ini dilaksanakan oleh perangkat daerah Provinsi Jawa Timur bersama tim pengabdian masyarakat dari Universitas Airlangga, dengan sasaran perempuan pesisir di kawasan Kenjeran.

Pelatihan semacam ini akan bernilai lebih tinggi apabila keterampilan yang diajarkan dapat diterapkan dengan bahan baku lokal dan biaya produksi yang tetap terjangkau bagi peserta.

Diskusi dan Praktik Pengolahan

Format kegiatan menggabungkan diskusi kelompok terarah dengan praktik langsung pengolahan pangan, sehingga peserta tidak hanya mendapatkan teori melainkan juga pengalaman produksi secara nyata.

Perempuan pesisir di kawasan ini kerap menghubungkan ekonomi rumah tangga dengan hasil perikanan serta jaringan komunitas yang sudah terbentuk sejak lama.

Standar Mutu Jadi Tantangan Berikutnya

Produk pangan hasil olahan warga pesisir memerlukan standar higienitas, umur simpan, kemasan, serta perizinan usaha sebelum dapat dipasarkan lebih luas ke konsumen di luar kawasan.

Akses peserta terhadap permodalan dan kanal penjualan juga menjadi faktor penentu apakah keterampilan baru ini benar-benar dapat diubah menjadi sumber pendapatan tambahan.

Mengukur Dampak Setelah Pelatihan

Hingga saat ini belum ada keterangan resmi mengenai jumlah peserta pelatihan, jenis produk olahan yang dihasilkan, maupun rencana pemasaran produk ke depannya.

Pendampingan lanjutan setelah kelas pelatihan selesai akan menjadi penentu apakah pengetahuan baru ini dapat benar-benar diubah menjadi tambahan pendapatan bagi keluarga pesisir Kenjeran.

Perubahan pendapatan atau produksi rumah tangga peserta pascapelatihan menjadi indikator yang lebih konkret dibandingkan sekadar jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan ini.

Nilai tambah dari pengolahan pangan pesisir juga perlu dilihat dari kemampuan peserta menjaga mutu produk secara konsisten, bukan hanya pada hari pelatihan berlangsung.

Program pemberdayaan perempuan pesisir semacam ini biasanya berkelanjutan dengan pendampingan lanjutan dari perangkat daerah maupun kampus yang terlibat, agar keterampilan yang diajarkan tidak berhenti pada satu kali pelatihan saja.

Perempuan pesisir di berbagai kawasan Surabaya kerap menghadapi tantangan serupa dalam mengakses permodalan usaha kecil, sehingga pelatihan pengolahan pangan perlu disertai pendampingan akses pembiayaan.

Produk olahan pangan berbasis hasil laut dari kawasan pesisir memiliki potensi pasar yang cukup luas, asalkan memenuhi standar kemasan dan perizinan yang berlaku bagi produk pangan rumahan.

Kolaborasi antara pemerintah provinsi dan perguruan tinggi semacam ini diharapkan dapat terus berlanjut untuk menjangkau lebih banyak kelompok perempuan pesisir di wilayah Surabaya lainnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui berbagai program pemberdayaan terus berupaya menjangkau kelompok perempuan pesisir di sepanjang garis pantai Surabaya dan sekitarnya.

Universitas Airlangga sebagai mitra pengabdian masyarakat diharapkan dapat melanjutkan pendampingan teknis bagi kelompok perempuan Kejawan Lor hingga produk olahan mereka benar-benar siap dipasarkan secara luas.

Kolaborasi lintas sektor semacam ini menjadi model yang dapat direplikasi di kawasan pesisir lain yang memiliki karakteristik sosial ekonomi serupa.

Wilayah: Surabaya Raya