Pameran bisnis Universitas Kristen Petra (UK Petra) di Surabaya disebut mencatat transaksi sekitar Rp2 miliar dalam tiga hari, dengan sekitar 90 persen penyewa stan berasal dari mahasiswa dan alumni.
Angka yang muncul dalam pemberitaan 25 September 2026 ini memperlihatkan ramainya aktivitas perdagangan di ruang kampus, sekaligus mengundang pertanyaan: berapa banyak usaha yang mampu mempertahankan pelanggan setelah pameran berakhir?
Membaca Angka Rp2 Miliar Secara Proporsional
Nilai transaksi tersebut perlu dibaca sesuai maknanya — Rp2 miliar yang tercatat selama acara adalah perputaran penjualan menurut keterangan penyelenggara, bukan laba bersih peserta atau pendapatan tahunan bisnis mahasiswa.
Setiap penjual masih menanggung biaya barang, tenaga kerja, sewa atau persiapan stan, promosi, dan logistik, sehingga keberhasilan peserta tidak bisa dinilai dari total acara saja.
Data jumlah usaha, rata-rata transaksi per stan, dan jenis produk akan memberi gambaran yang lebih adil dibanding satu angka agregat.
Pameran memberi kesempatan menguji produk secara langsung — penjual bisa mendengar komentar pembeli, melihat barang yang cepat habis, dan menilai apakah harga sesuai pasar.
Namun pasar kampus punya karakter khusus: pengunjung mungkin mengenal peserta atau datang karena kegiatan universitas, sehingga produk yang laku di lingkungan itu belum tentu mempunyai permintaan yang sama di luar kampus.
Nilai Pendidikan Setelah Meja Pameran Dibongkar
Keterlibatan alumni bisa membantu membuka jejaring pemasok, mentor, dan calon mitra usaha.
Nilai pendidikan acara ini justru terletak pada proses setelahnya — apakah tim mencatat biaya secara teratur, menindaklanjuti calon pelanggan, memperbaiki kualitas produk, dan mengurus perizinan yang relevan.
Sebagian mahasiswa mungkin memperoleh keterampilan bekerja dalam tim dan membuat keputusan berbasis data, bukan sekadar menjadi pengusaha penuh waktu.
Penilaian kegiatan juga perlu melihat distribusi manfaat, sebab produk makanan, kerajinan, jasa, dan teknologi punya ongkos serta pola pembelian yang berbeda.
Bila panitia memublikasikan angka total transaksi pada penyelenggaraan berikutnya, transparansi soal metodologi pencatatan — misalnya apakah transaksi tunai dan digital dihitung bersama — akan membantu angka tersebut lebih mudah dibandingkan antarpenyelenggaraan, sehingga capaian pameran benar-benar mencerminkan bisnis mahasiswa yang bertahan, bukan sekadar laporan kegiatan tiga hari.
Pelajaran bagi Kampus Lain
Model pameran bisnis kampus seperti ini semakin banyak ditiru perguruan tinggi lain di Jawa Timur sebagai sarana melatih mahasiswa mengelola usaha nyata, bukan sekadar simulasi di kelas.
Namun keberhasilan jangka panjangnya baru bisa dinilai setelah beberapa siklus penyelenggaraan, ketika kampus dapat menunjukkan berapa alumni pameran yang benar-benar melanjutkan usahanya di luar lingkungan kampus dengan pelanggan yang lebih luas.
Bagi mahasiswa yang belum ikut serta, pameran berikutnya bisa menjadi kesempatan menguji ide usaha kecil-kecilan sebelum berkomitmen penuh, asalkan mereka menyiapkan rencana biaya dan target yang realistis sejak awal.



