Kapasitas Dermaga Ketapang-Gilimanuk Digenjot, Manfaat Nataru Perlu Diukur

Oleh Redaksi 3 mnt baca
Pekerja memeriksa dermaga Ketapang sementara kapal feri bersandar di Selat Bali
Ilustrasi/Jatimverse.id

Kapasitas dua dermaga pada lintasan Ketapang-Gilimanuk sedang ditingkatkan menjelang periode Natal dan Tahun Baru. Dermaga V di Ketapang, Banyuwangi, serta Dermaga II di Gilimanuk, Bali, dirancang memiliki kapasitas 50 ton dan melayani kapal sampai 5.000 gross ton.

Kapasitas Baru Menjelang Nataru

Pekerjaan secara kontraktual dijadwalkan selesai Maret 2027, sementara pengelola berupaya agar manfaat tertentu dapat dirasakan lebih cepat. Lintasan ini merupakan pintu utama mobilitas darat antara Jawa dan Bali.

Saat arus liburan meningkat, antrean kendaraan dapat memengaruhi biaya perjalanan, distribusi barang, dan waktu kerja pengemudi. Dermaga yang mampu menerima kapal lebih besar berpotensi menambah fleksibilitas operasi.

Namun, kapasitas fisik bukan satu-satunya penentu kelancaran. Jumlah kapal siap operasi, pola bongkar muat, kapasitas kantong parkir, pengaturan tiket, cuaca Selat Bali, dan akses jalan menuju pelabuhan ikut menentukan panjang antrean.

Karena itu, klaim manfaat menjelang Nataru perlu diterjemahkan ke ukuran yang dapat diperiksa: berapa tambahan perjalanan, berapa kendaraan per jam, dan apakah waktu tunggu berkurang pada jam puncak. Percepatan pemanfaatan juga tidak boleh mengurangi pengujian keselamatan.

Kekuatan struktur, sistem tambat, jembatan bergerak, penerangan, marka, serta prosedur darurat harus dinyatakan siap oleh pihak berwenang sebelum dermaga digunakan. Publik perlu mengetahui bagian mana yang telah selesai dan bagian mana yang masih dikerjakan agar ekspektasi tidak melampaui kemampuan lapangan.

Bagi ekonomi Banyuwangi, kelancaran penyeberangan berpengaruh pada pariwisata dan perdagangan. Produk segar, kebutuhan pokok, serta kendaraan logistik sangat sensitif terhadap keterlambatan.

Keselamatan di Atas Kecepatan

Sebaliknya, penambahan kapasitas yang tidak disertai pengelolaan lalu lintas dapat hanya memindahkan kemacetan dari pelabuhan ke jalan nasional. Perlu diikuti progres fisik, hasil uji kelayakan, dan rencana operasi resmi untuk musim liburan.

Wawancara dengan sopir, operator kapal, dan pelaku usaha sekitar pelabuhan dapat menunjukkan dampak riil. Perlu pula dibandingkan waktu tunggu sebelum dan sesudah peningkatan untuk mengetahui manfaatnya.

Peningkatan dermaga akan bernilai bila membuat perjalanan lebih aman dan dapat diprediksi, bukan sekadar menambah angka kapasitas di atas kertas. Keselamatan pekerja selama konstruksi dan informasi yang jelas kepada pengguna menjadi syarat yang sama pentingnya dengan target percepatan.

Informasi kepada calon penumpang perlu diperbarui melalui kanal resmi ketika konstruksi mengubah jalur masuk, lokasi antre, atau jadwal kapal. Petunjuk yang terlambat dapat membuat kendaraan salah jalur dan memperpanjang kepadatan.

Pengelola juga harus menyediakan akses yang aman bagi pejalan kaki, pengguna sepeda motor, lansia, dan penyandang disabilitas selama area berubah. Data operasi Nataru nantinya sebaiknya dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya.

Jumlah penumpang saja tidak cukup; durasi antrean, pembatalan perjalanan, insiden keselamatan, serta keluhan pengguna memberi gambaran lebih lengkap. Perbandingan itu dapat menguji apakah investasi fisik benar-benar memperbaiki pengalaman menyeberang.

Wilayah: Tapal Kuda