Jalan Jagir Ditutup, UMKM Menghitung Turunnya Pelanggan dan Risiko Stok

Oleh Redaksi 3 mnt baca
Pemilik warung memandang jalan yang dialihkan di kawasan Jagir Surabaya
Ilustrasi/Jatimverse.id

Penutupan Jalan Jagir di Surabaya selama aksi kendaraan berat pada 30 September hingga 2 Oktober 2026 dikeluhkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Aksi yang melibatkan ratusan truk dan kendaraan derek itu mengubah arus lalu lintas serta akses pelanggan.

Pelanggan yang Hilang Saat Jalan Ditutup

Kelompok UMKM menyebut kunjungan dapat turun 80 sampai 90 persen pada usaha tertentu. Angka tersebut perlu diperlakukan sebagai klaim awal, bukan gambaran otomatis seluruh kawasan.

Besar dampak sangat mungkin berbeda menurut posisi toko, jenis dagangan, jam operasional, keberadaan akses alternatif, dan kemampuan menerima pesanan daring. Wawancara terhadap beberapa pedagang serta catatan transaksi sebelum, selama, dan setelah penutupan akan memberi dasar yang lebih kuat.

Usaha makanan menghadapi risiko khusus karena stok mudah rusak. Pedagang yang biasanya beromzet Rp500 ribu hingga Rp2 juta per hari dapat kehilangan pendapatan sekaligus menanggung bahan yang tidak terjual.

Berbeda dari toko barang tahan lama, mereka tidak selalu dapat menunda penjualan ke hari berikutnya. Pekerja harian dan pemasok kecil ikut terdampak ketika produksi dikurangi.

Penanganan aksi publik memang harus menyeimbangkan kebebasan menyampaikan pendapat, keselamatan, dan kelancaran kota. Namun biaya ekonomi pada warga sekitar seharusnya masuk perencanaan.

Pemberitahuan lebih awal, rute pengalihan yang mudah dipahami, ruang bongkar muat, serta akses pejalan kaki dapat mengurangi kerugian tanpa menghapus hak menyampaikan aspirasi. Pemerintah kota dan kepolisian perlu menjelaskan dasar serta durasi penutupan, perubahan yang diterapkan di lapangan, dan kanal keluhan.

Bila penutupan berlangsung beberapa hari, petugas dapat memantau titik usaha yang benar-benar terisolasi. Evaluasi juga harus melihat apakah kemacetan berpindah ke permukiman atau koridor perdagangan lain.

Mencari Jalan Tengah yang Adil

Persoalan ini sebaiknya tidak direduksi menjadi pertentangan antara peserta aksi dan pedagang. Keduanya bisa memiliki kepentingan yang sah.

Fokus liputan adalah apakah pengelolaan ruang publik telah meminimalkan dampak yang dapat dicegah, serta apakah pihak yang terdampak memperoleh informasi memadai. Catatan omzet, jumlah transaksi, dan persediaan terbuang akan membantu menghitung kerugian nyata.

Setelah jalan kembali normal, pemulihan kunjungan juga perlu diukur. Data itu dapat menjadi dasar protokol penutupan jalan berikutnya agar kegiatan demokratis dan keberlangsungan ekonomi lokal tidak saling meniadakan.

Platform pemesanan daring mungkin membantu sebagian pedagang, tetapi tidak semua pelanggan atau produk cocok dialihkan. Kurir juga dapat kesulitan mencapai lokasi ketika akses ditutup.

Karena itu, saran untuk berjualan daring bukan pengganti pengaturan lalu lintas yang baik. Bantuan paling langsung adalah informasi pasti, akses lokal, dan koordinasi sebelum stok dibeli.

Jika kerugian terbukti besar, pemerintah dapat membahas bentuk dukungan yang proporsional dan memiliki dasar aturan. Pilihannya tidak harus selalu ganti rugi tunai; promosi kawasan, pembebasan biaya tertentu, atau fasilitasi pasar sementara bisa dievaluasi.

Setiap kebijakan harus memakai kriteria terbuka agar tidak menimbulkan klaim baru yang sulit diverifikasi.

Wilayah: Surabaya Raya