Garam Sumenep Tembus 25.285 Ton, Harga Petani Justru Lebih Rendah

Oleh Redaksi 3 mnt baca
Petambak mengumpulkan garam putih di lahan tambak luas di Sumenep
Ilustrasi/Jatimverse.id

Produksi Tembus 25.285 Ton

Pemkab Sumenep mencatat produksi garam rakyat mencapai 25.285 ton hingga Agustus 2026.

Produksi tersebut berasal dari 1.518 hektare tambak yang aktif dikelola, dari total potensi lahan 1.968 hektare.

Sebagian lahan tidak diusahakan karena pemiliknya kesulitan memperoleh tenaga kerja.

Pemerintah memperkirakan hasil akhir musim dapat melampaui tahun lalu bila kemarau tetap mendukung.

Produksi Naik, Harga Justru Turun

Kenaikan produksi ternyata tidak otomatis memperbaiki pendapatan para petambak garam.

Harga garam di tingkat petani tahun ini berada pada kisaran Rp1.100 hingga Rp1.250 per kilogram.

Angka ini lebih rendah dibandingkan kisaran Rp1.300 hingga Rp1.500 per kilogram pada musim 2025.

Bila biaya tenaga kerja, sewa lahan, pompa, terpal, angkut, dan penyimpanan tidak ikut turun, selisih harga ini langsung menggerus margin petambak.

Mutu dan Waktu Jual Menentukan Harga

Pasar garam sangat dipengaruhi oleh mutu dan waktu penjualan hasil panen.

Kadar air, kebersihan, ukuran kristal, dan kandungan zat tertentu menentukan tingkat penerimaan dari industri.

Petani yang harus menjual segera setelah panen cenderung memiliki daya tawar lebih rendah dibandingkan yang memiliki gudang dan modal untuk menunggu.

Pendampingan 19 Penyuluh Lapangan

Pemkab Sumenep menerjunkan 19 penyuluh untuk mendampingi para petambak garam di lapangan.

Pendampingan diharapkan tidak hanya mengejar tonase produksi, tetapi juga membantu pengujian mutu dan pencatatan biaya.

Teknologi seperti geomembran dapat meningkatkan mutu garam pada kondisi tertentu, meski biaya awal dan perawatannya tetap perlu dihitung dengan cermat.

Kekurangan Tenaga Kerja Jadi Tantangan

Kekurangan tenaga kerja di tambak garam perlu ditelusuri penyebabnya lebih jauh.

Apakah karena upah kurang menarik, sifat pekerjaan yang musiman, atau generasi muda yang beralih ke sektor lain.

Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan solusi yang tepat, mulai dari mekanisasi sederhana hingga perbaikan jalan produksi.

Pendapatan Bersih Jadi Ukuran Sebenarnya

Keberhasilan musim garam Sumenep seharusnya diukur melalui pendapatan bersih petambak, bukan hanya jumlah ton yang dipanen.

Pemerintah dapat memfasilitasi gudang penyimpanan, informasi harga, kontrak pembelian, pembiayaan, dan standardisasi mutu.

Ketika produksi naik tetapi harga justru jatuh, pekerjaan kebijakan sesungguhnya belum selesai karena pasokan harus dihubungkan dengan pasar yang adil.

Informasi mutu per petak tambak dapat membantu petambak memperbaiki proses sekaligus menegosiasikan harga berdasarkan spesifikasi, bukan sekadar menerima harga rata-rata di pasaran.

Proyeksi Musim yang Masih Berjalan

Pernyataan bahwa produksi tahun ini akan melampaui 2025 masih bersifat proyeksi, bukan hasil akhir musim yang final.

Data produksi per kecamatan, kelas mutu, dan volume yang sudah terserap pasar akan memberi gambaran lebih lengkap mengenai kondisi sebenarnya.

Dengan 19 penyuluh yang diterjunkan, cakupan pendampingan juga perlu diperjelas agar manfaatnya dirasakan merata oleh petambak di berbagai kecamatan.

Stok garam di gudang dan kontrak penyerapan dari pembeli turut menentukan apakah hasil panen 2026 benar-benar terserap dengan harga yang wajar.

Wilayah: Madura