Empat Stasiun Berkonsep Hijau
Empat stasiun di wilayah KAI Daop 9 Jember kini memanfaatkan listrik tenaga surya untuk mendukung konsep stasiun hijau.
Panel surya dipasang di Stasiun Probolinggo, Jember, Ketapang, dan Banyuwangi dengan total kapasitas 39 kWp.
Tiga lokasi mulai beroperasi sejak Desember 2023, sedangkan Stasiun Banyuwangi baru terpasang pada Maret 2025.
Kapasitas Berbeda di Tiap Stasiun
Kapasitas panel surya masing-masing stasiun adalah 6 kWp di Probolinggo, 15 kWp di Jember, 7 kWp di Ketapang, dan 11 kWp di Banyuwangi.
Satuan kWp menggambarkan kapasitas puncak panel dalam kondisi standar, bukan listrik yang selalu dihasilkan sepanjang hari.
Produksi listrik yang sebenarnya berubah mengikuti intensitas matahari, suhu, bayangan, kebersihan panel, dan orientasi pemasangan.
Skema On-Grid untuk Area Publik
PLTS ini menggunakan skema on-grid sehingga energi yang dihasilkan tetap terhubung dengan jaringan listrik utama.
Daya dari panel surya dimanfaatkan untuk penerangan ruang tunggu, loket, area publik, dan ruang kerja di stasiun.
KAI menyebut penghematan konsumsi listrik sekitar 14 persen di Probolinggo, 22 persen di Jember, 13 persen di Banyuwangi, dan 10 persen di Ketapang.
Jember Catat Penghematan Tertinggi
Stasiun Jember memiliki kapasitas panel terbesar sekaligus persentase penghematan tertinggi di antara keempat lokasi.
Namun, hubungan antara kapasitas dan penghematan ini tidak selalu berjalan linear di lapangan.
Pola beban siang, luas atap, jam operasional, dan efisiensi perangkat turut memengaruhi hasil akhir dari setiap stasiun.
Efisiensi Tak Hanya dari Panel Surya
Efisiensi energi di stasiun tidak hanya berasal dari pemasangan panel surya semata.
KAI juga menggunakan lampu LED dan sistem pengendalian penerangan berbasis waktu operasional.
Langkah berikutnya mencakup penerapan Internet of Things serta Integrated Building Management System untuk memantau penggunaan energi secara lebih rinci.
Contoh Transisi Energi di Fasilitas Publik
Empat stasiun ini memberi contoh konkret transisi energi pada fasilitas publik di Jawa Timur.
Dampaknya akan lebih terasa jika data kinerja dibuka secara transparan dan digunakan untuk memilih bangunan berikutnya yang akan dipasangi panel surya.
Keputusan perluasan sebaiknya memprioritaskan atap dengan paparan matahari baik dan kebutuhan listrik tinggi pada siang hari, sehingga investasi menghasilkan penghematan nyata tanpa mengurangi mutu layanan penumpang.
Perbandingan antarlokasi idealnya memakai satuan yang adil, misalnya produksi energi per kWp, agar stasiun berkapasitas kecil tetap bisa dinilai efisiensinya secara wajar.
Catatan Perawatan Jangka Panjang
Catatan pencucian panel, gangguan inverter, dan penurunan produksi dari waktu ke waktu membantu menentukan biaya sepanjang usia aset panel surya.
Pengelolaan panel pada akhir masa pakainya juga perlu direncanakan agar manfaat energi bersih ini tidak menciptakan persoalan limbah baru di kemudian hari.
Informasi kinerja empat stasiun ini dapat menjadi bahan belajar bagi bangunan publik lain yang sedang mempertimbangkan pemasangan PLTS atap serupa.
Dengan begitu, keputusan ekspansi energi surya di fasilitas publik lain tidak hanya meniru pemasangan yang terlihat baik secara visual semata.



