Bandara Dhoho Kediri Ganti Pengelola, Kemenhub Pastikan Operasional Tetap Berjalan

Oleh Redaksi 3 mnt baca
Pesawat tanpa logo berada di apron Bandara Dhoho sementara dua tim operasional bertukar map dokumen
Ilustrasi/Jatimverse.id

Kementerian Perhubungan memastikan Bandara Dhoho Kediri tetap beroperasi meski kerja sama operasi antara PT Angkasa Pura Indonesia dan PT Surya Dhoho Investama telah berakhir. Perubahan ini merupakan transisi pengelolaan, bukan penutupan bandara.

Dasar Keputusan Transisi

Perjanjian pengakhiran kerja sama ditandatangani pada 31 Agustus 2026, mengatur penyelesaian hak dan kewajiban, masa transisi, serta penyerahan dokumen dan aset. Pengelolaan selanjutnya ditetapkan kepada PT Surya Dhoho Investama.

Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP-DJPU 216 Tahun 2026 tertanggal 25 September.

Yang Jadi Perhatian Penumpang

Bagi pengguna, pertanyaan utamanya adalah apakah jadwal, keselamatan, dan layanan tetap berjalan tanpa gangguan selama masa peralihan berlangsung.

Bandara tidak hanya terdiri dari terminal dan landasan, tetapi juga sertifikasi, personel, navigasi, pemadam kebakaran, dan koordinasi dengan maskapai. Setiap fungsi perlu punya penanggung jawab jelas selama transisi.

Kejelasan prosedur ini penting agar penumpang tidak dirugikan oleh kebingungan administratif yang muncul akibat pergantian pengelola.

Dampak Ekonomi Kediri Raya

Kepastian penerbangan memengaruhi sektor hotel, transportasi darat, UMKM, dan mobilitas tenaga kerja di sekitar Kediri. Namun keberadaan bandara saja tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan ekonomi.

Kinerjanya perlu diukur lewat frekuensi penerbangan, tingkat keterisian, dan kemampuan menarik rute yang berkelanjutan, bukan sekadar target simbolik semata.

Transparansi Jadi Kunci

Pengguna berhak tahu kontak operator baru, standar pelayanan, dan mekanisme pengaduan bila ada perubahan prosedur. Pekerja dan mitra usaha juga membutuhkan kepastian kontrak selama masa peralihan.

Maskapai memerlukan koordinasi slot dan layanan darat yang jelas, sementara regulator harus menjelaskan tahapan pemeriksaan keselamatan dan sertifikasi tanpa membuka informasi yang sensitif.

Konektivitas Darat Tak Kalah Penting

Penumpang menghitung perjalanan dari rumah sampai tujuan, bukan hanya waktu di udara. Ketersediaan angkutan umum dan tarif menuju terminal akan memengaruhi minat menggunakan Bandara Dhoho.

Masa transisi juga harus menjaga hak konsumen, termasuk tiket yang sudah terbit dan prosedur bagi penumpang disabilitas, agar layanan penting tidak terputus akibat pergantian pengelola.

Audit serah terima yang menyeluruh akan memberi kepastian bahwa fasilitas kritis dan catatan pemeliharaan tidak hilang di tengah proses peralihan ini.

Redaksi dapat menindaklanjuti dengan memeriksa jadwal penerbangan aktual sebelum dan sesudah transisi, serta pengalaman nyata penumpang selama masa peralihan pengelola berlangsung.

Data jumlah penumpang, rute aktif, dan tingkat ketepatan waktu akan menunjukkan apakah kesinambungan layanan benar-benar terjaga di bawah pengelola baru, bukan sekadar janji administratif semata.

Pemerintah daerah Kediri Raya juga diharapkan mempublikasikan target dan capaian konektivitas udara secara berkala, sehingga masyarakat bisa menilai sendiri manfaat nyata dari transisi pengelolaan ini.

Berita paling penting dari transisi ini bukan sekadar siapa yang memegang kendali pengelolaan, melainkan apakah pergantian tersebut menghasilkan layanan yang aman, dapat diprediksi, dan memberi manfaat ekonomi realistis bagi warga sekitar bandara.

Wilayah: Mataraman