Kemarau Dukung Pengeringan Tembakau Tulungagung, Harga Rajangan Naik ke Rp130 Ribu

Oleh Redaksi 3 mnt baca
Hamparan tembakau keemasan dijemur di halaman desa saat petani memeriksa kekeringan
Ilustrasi/Jatimverse.id

Kemarau Dukung Pengeringan Tembakau

Petani Desa Gempolan, Tulungagung, memanfaatkan periode kering untuk mengeringkan tembakau rajangan mereka.

Harga tembakau dilaporkan bergerak dari sekitar Rp100 ribu menjadi Rp130 ribu per kilogram.

Kenaikan ini memberi sinyal positif, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan pendapatan petani meningkat sebanding.

Harga, volume jual, mutu, dan biaya produksi harus dibaca secara bersamaan agar gambarannya utuh.

Mutu Ditentukan Proses Pengeringan

Pengeringan menjadi tahap penting karena kadar air dan keseragaman rajangan memengaruhi mutu akhir.

Sinar matahari yang stabil membantu mengatur penjemuran serta mengurangi risiko bahan kembali basah.

Namun cuaca yang terlalu panas atau pengeringan yang tidak merata juga dapat menurunkan kualitas tembakau.

Petani menyesuaikan ketebalan hamparan, membalik rajangan, lalu menyimpan hasil agar kelembapan tidak masuk kembali.

Harga Rp130 Ribu Perlu Konteks

Angka Rp130 ribu per kilogram ini perlu diberi konteks yang lebih jelas.

Tembakau tidak memiliki satu harga yang seragam karena varietas, warna, aroma, kadar air, kebersihan, dan penilaian pembeli menghasilkan kelas yang berbeda.

Harga satu transaksi belum tentu berlaku bagi seluruh Gempolan atau Tulungagung secara umum.

Keuntungan Bersih Harus Dihitung Utuh

Keuntungan bersih petani juga dipengaruhi biaya benih, pupuk, tenaga kerja, pengairan, sewa lahan, alat perajang, bahan penjemuran, dan biaya angkutan.

Bila hasil panen turun akibat cuaca sebelumnya, harga tinggi mungkin hanya menutup kehilangan volume panen.

Pendapatan kotor yang berasal dari harga dikalikan berat jual harus dikurangi biaya agar gambaran ekonominya adil.

Dua Sisi Musim Kering

Periode kering membawa dua sisi yang saling berlawanan bagi petani.

Musim ini membantu pengeringan setelah panen, tetapi kekurangan air saat tanaman tumbuh dapat memengaruhi kualitas daun.

Prakiraan cuaca, irigasi hemat air, tempat pengeringan terlindung saat hujan mendadak, dan penyimpanan yang baik dapat mengurangi kehilangan hasil.

Kelompok tani dapat membantu pencatatan transaksi, pengelompokan mutu, serta perbandingan harga antarpembeli.

Kesehatan Pekerja Tak Boleh Diabaikan

Risiko kesehatan kerja juga layak dicatat dalam proses produksi tembakau ini.

Debu, paparan nikotin dari daun basah, panas, dan gerakan berulang dapat memengaruhi pekerja saat perajangan maupun penjemuran.

Alat pelindung yang sesuai, air minum, waktu istirahat, dan penyimpanan yang aman perlu menjadi bagian dari produktivitas kerja.

Jika tenaga keluarga ikut terlibat, nilai kerja mereka harus turut dihitung agar analisis laba tidak tampak lebih besar dari kenyataan.

Catatan harian mengenai berat daun basah, hasil kering, kelas mutu, dan harga transaksi dapat memperkuat posisi tawar petani di hadapan pembeli.

Peluang di Musim Panen Berikutnya

Kenaikan harga tahun ini dapat menjadi dorongan bagi petani muda Tulungagung untuk tetap menekuni budi daya tembakau meski risikonya tidak kecil.

Koperasi tani dan lembaga keuangan desa dapat membantu menyediakan modal awal musim tanam agar petani tidak terjebak pinjaman berbunga tinggi menjelang panen.

Dengan pencatatan yang lebih rapi, pengalaman musim ini bisa menjadi pelajaran berharga untuk perencanaan tanam tembakau pada musim berikutnya.

Wilayah: Mataraman