Program Baru untuk Lahan Kering
Pemerintah Kabupaten Lumajang memperkuat pengelolaan lahan kering melalui Horticulture Development in Dryland Areas Project atau HDDAP.
Program ini diarahkan pada komoditas hortikultura, termasuk pisang yang dilaporkan mengalami penurunan produksi sampai 40 persen akibat El Nino.
Pendekatan yang digunakan disebut mencakup bagian hulu hingga pascapanen.
Angka 40 Persen Perlu Konteks
Angka penurunan 40 persen perlu diberi konteks yang lebih jelas.
Periode pembanding, varietas, luas lahan, kecamatan, serta metode perhitungan masih perlu dirinci lebih lanjut.
Tanpa rincian itu, angka besar mudah dipahami sebagai kondisi seluruh Lumajang, padahal dampak kekeringan bisa berbeda menurut elevasi, ketersediaan air, dan jenis kebun.
Lahan Kering Butuh Pendekatan Menyeluruh
Pengelolaan lahan kering tidak semata-mata soal menambah irigasi.
Pemilihan bibit, mulsa, bahan organik, konservasi tanah, penampungan air, jadwal tanam, dan pengendalian penyakit perlu disesuaikan dengan kondisi setempat.
Intervensi harus menjaga ketersediaan air agar tekanan tidak berpindah dari pertanian ke kebutuhan rumah tangga atau ekosistem sekitar.
Dari Hulu Sampai Hilir
HDDAP menjanjikan pendekatan dari hulu ke hilir.
Di hulu, kebutuhan petani meliputi bahan tanam sehat, akses air, pendampingan, dan informasi cuaca.
Di hilir, persoalannya adalah sortasi, kemasan, penyimpanan, pengolahan, transportasi, dan kepastian pembeli.
Kenaikan produksi tanpa pasar yang memadai dapat menekan harga saat panen berlangsung serentak.
Pisang Butuh Rantai Pasok Cepat
Pisang memiliki karakter yang sensitif terhadap waktu setelah dipanen.
Buah yang telah dipetik harus segera masuk rantai penjualan atau pengolahan agar tidak terbuang sia-sia.
Rumah kemas dan jadwal angkutan yang tertata dapat mengurangi susut hasil panen.
Produk olahan memberi alternatif, tetapi harus memiliki standar mutu, izin, desain usaha, serta permintaan pasar yang nyata.
Risiko Harus Dibagi Secara Adil
Petani kecil membutuhkan pembagian risiko yang adil dalam program ini.
Bila program mendorong teknologi baru, biaya awal, perawatan, dan potensi gagal perlu dijelaskan secara terbuka kepada petani.
Kelompok tani sebaiknya terlibat menentukan prioritas, bukan hanya menerima paket bantuan yang sudah jadi.
Data penerima, anggaran, dan indikator hasil perlu terbuka agar manfaat tidak terkonsentrasi pada kebun besar saja.
Ketahanan Jangka Panjang Jadi Ukuran
Perubahan iklim membuat kejadian kering ekstrem berpotensi berulang di masa depan.
Program ini perlu mengukur ketahanan beberapa musim, bukan hanya satu kali panen.
Indikatornya antara lain produktivitas, penggunaan air, pendapatan bersih, susut pascapanen, dan kestabilan harga.
Asuransi pertanian atau dana pemulihan juga layak dipertimbangkan untuk komoditas yang memenuhi syarat.
Keberhasilan program HDDAP akan terlihat bila mampu menjaga produksi sekaligus pendapatan, air, dan daya tahan komunitas tani Lumajang secara berkelanjutan.
Belajar dari Daerah Lahan Kering Lain
Sejumlah daerah lahan kering di Indonesia sudah lebih dulu mengembangkan pola tanam tumpang sari dan sistem panen air hujan untuk menopang musim kemarau panjang.
Lumajang dapat mengadaptasi praktik semacam itu selama disesuaikan dengan jenis tanah, pola curah hujan, dan kebiasaan bertani setempat.
Pendampingan penyuluh pertanian tetap dibutuhkan agar petani tidak hanya menerima teknologi baru, tetapi juga memahami cara merawatnya dalam jangka panjang.
Dengan begitu, strategi hortikultura lahan kering tidak berhenti sebagai proyek percontohan, melainkan menjadi kebiasaan bertani yang bertahan lintas musim.



