Penanaman Perdana di Lahan 90 Hektare
Pemkab Lamongan memperluas mekanisasi budidaya tebu melalui Program Bongkar Ratoon 2026.
Penanaman perdana dilakukan di lahan Gapoktan Sumber Mulyo Mutiara Abadi, Desa Gampangsejati, Kecamatan Laren, seluas 90 hektare.
Target program di Lamongan mencapai 1.385 hektare, sementara alokasi yang tersedia saat ini 1.121,43 hektare, sehingga masih ada ruang sekitar 264 hektare.
Meremajakan Tanaman yang Mulai Menurun
Bongkar ratoon berarti mengganti tanaman tebu lama yang produktivitasnya menurun dengan tanaman baru.
Tebu memang dapat dipanen kembali dari tunas setelah batang dipotong, namun kemampuan rumpun tidak bertahan tanpa batas waktu.
Peremajaan membantu memperbaiki populasi tanaman, memilih varietas unggul, mengatur jarak tanam, dan memulihkan hasil panen.
Mekanisasi dapat mempercepat pengolahan lahan serta proses penanaman bila kondisi petak lahan memungkinkan.
Produksi Capai 1,5 Juta Kuintal
Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lamongan mencatat produksi hingga September 2026 sebesar 1.519.314,75 kuintal.
Produktivitas tercatat sekitar 650 kuintal per hektare.
Angka produksi ini perlu dibaca bersama rendemen, yaitu proporsi gula yang dapat dihasilkan dari tebu, karena tonase tinggi belum tentu memberi pendapatan optimal bila rendemen rendah.
Akses Alat Jadi Kunci Petani Kecil
Alat pertanian modern dapat menekan ongkos produksi dan mengatasi kekurangan tenaga kerja di lahan tebu.
Namun, petani kecil mungkin tidak sanggup membeli mesin sendiri sehingga akses menjadi faktor penentu.
Unit jasa alat, koperasi, atau kelompok tani perlu menyediakan jadwal dan tarif yang transparan bagi semua anggota.
Keterlambatan alat pada masa tanam berpotensi menghilangkan manfaat mekanisasi itu sendiri.
Perubahan Kebutuhan Tenaga Kerja
Mekanisasi turut mengubah kebutuhan tenaga kerja di sektor pertanian tebu.
Pemerintah perlu memetakan pekerjaan yang berkurang dan keterampilan baru yang dibutuhkan, seperti operator mesin dan mekanik lapangan.
Pelatihan operator, standar keselamatan, suku cadang, dan bengkel perawatan menjadi faktor penentu keberlanjutan program.
Margin Petani Jadi Ukuran Keberhasilan
Program swasembada gula akan bermakna bagi Lamongan apabila petani memperoleh margin keuntungan yang lebih sehat.
Target luas lahan dalam hektare penting, namun bukan satu-satunya ukuran keberhasilan program ini.
Keberhasilan sejatinya harus terlihat pada biaya per kuintal yang turun, produktivitas dan rendemen yang naik, serta pembayaran pabrik yang tepat waktu.
Skema sewa alat bersama juga dapat diuji dengan tarif terbuka dan antrean tercatat, sehingga kelompok tani kecil tidak selalu mendapat giliran terakhir dalam penggunaan mesin.
Perbandingan Sebelum dan Sesudah Mekanisasi
Perbandingan biaya budidaya sebelum dan sesudah mekanisasi akan menunjukkan apakah program ini benar-benar menghasilkan tambahan keuntungan bagi petani.
Petak lahan program idealnya dibandingkan dengan petak nonprogram pada musim tanam yang sama agar hasilnya adil dan dapat dipertanggungjawabkan.
Data hasil per hektare, rendemen, dan harga jual perlu dicatat bersama agar kenaikan produksi tidak habis hanya untuk menutup biaya sewa alat dan pupuk.
Dengan pencatatan yang konsisten, Program Bongkar Ratoon 2026 dapat dievaluasi secara objektif pada musim-musim berikutnya di Lamongan.



