SPBU Mandangin Diusulkan, Nelayan Menunggu BBM dengan Harga Lebih Setara

Oleh Redaksi 3 mnt baca
Nelayan membawa jeriken resmi di fasilitas bahan bakar pulau dengan perahu di dermaga
Ilustrasi/Jatimverse.id

Usulan SPBU untuk Nelayan Pulau

Pemerintah Kabupaten Sampang mengusulkan pembangunan SPBU di Pulau Mandangin untuk mendekatkan akses bahan bakar kepada masyarakat, terutama nelayan.

Selama ini, BBM dibeli dari daratan dan dibawa menyeberang sehingga harga di pulau menjadi lebih tinggi akibat biaya angkut.

Pertamina disebut menyarankan bentuk SPBU Kompak, meski usulan ini belum sama dengan keputusan pembangunan yang pasti.

BBM Jadi Komponen Besar Biaya Melaut

Bagi nelayan, bahan bakar merupakan komponen besar dari biaya melaut setiap harinya.

Selisih harga per liter dapat berlipat ketika dikalikan dengan kebutuhan satu kali perjalanan menangkap ikan.

Jika harga ikan tidak ikut naik, tambahan biaya bahan bakar langsung menekan pendapatan bersih awak dan pemilik perahu.

Akses yang lebih dekat juga mengurangi risiko membawa bahan bakar dalam wadah yang mungkin tidak memenuhi standar keselamatan.

Perencanaan Rinci Jadi Syarat

Membangun penyalur BBM di pulau kecil memerlukan perencanaan yang rinci dan matang.

Pemerintah perlu menghitung kebutuhan harian, musim tangkap, jumlah kapal, jenis BBM, kapasitas penyimpanan, hingga jadwal pengiriman dari daratan.

Tangki, dermaga bongkar, sistem pemadam kebakaran, jarak dari permukiman, serta pelatihan petugas harus memenuhi standar keselamatan yang berlaku.

Kebocoran di pulau kecil berisiko cepat mencemari pesisir dan daerah tangkap ikan di sekitarnya.

Harga Setara Bukan Hasil Instan

Harga yang setara dengan daratan tidak akan otomatis tercapai hanya karena bangunan SPBU sudah berdiri.

Skema distribusi, biaya logistik, kuota, dan status bahan bakar bersubsidi harus diperjelas sejak awal.

Sistem pencatatan diperlukan agar pasokan untuk nelayan tidak dialihkan ke pihak lain.

Pelibatan Warga Sejak Awal

Keterlibatan warga Mandangin dinilai penting sejak tahap pemilihan lokasi pembangunan.

Mereka perlu mengetahui manfaat, risiko, jalur kendaraan, peluang kerja, dan prosedur darurat yang akan diterapkan.

Nelayan perempuan, pedagang ikan, dan warga yang tinggal dekat calon lokasi juga perlu didengar pendapatnya.

Keberhasilan Diukur dari Pasokan yang Teratur

Keberhasilan program ini pada akhirnya bukan sekadar berdirinya papan SPBU di pulau.

Indikatornya adalah pasokan yang teratur, harga transparan, antrean terkendali, tidak ada kebocoran, dan biaya melaut yang benar-benar turun.

Jika dirancang dengan standar keselamatan serta pengawasan publik, fasilitas ini berpotensi memperkuat ekonomi pulau dan membuat nelayan Mandangin lebih setara dengan pelaku usaha di daratan.

Tahapan Persetujuan yang Masih Panjang

BPH Migas dan Pertamina perlu menjelaskan tahapan persetujuan pembangunan SPBU ini secara bertahap kepada publik dan warga Mandangin.

Tahapan tersebut mencakup studi kelayakan, penentuan badan usaha pelaksana, izin lokasi, desain keselamatan, hingga target waktu operasi fasilitas.

Tanpa jadwal yang jelas, usulan pembangunan ini berisiko menjadi kabar yang berulang tanpa hasil nyata bagi nelayan setempat.

Kebutuhan harian bahan bakar perlu dihitung berdasarkan jumlah kapal aktif, musim melaut, dan konsumsi rumah tangga yang sah sebelum izin akhirnya diterbitkan.

Wilayah: Madura