Petani Nganjuk Diajak Naik Kelas Jadi Pengusaha Modern di Hari Tani Nasional

Oleh Redaksi 3 mnt baca
Petani menimbang hasil panen di ruang pengemasan sederhana sambil melihat catatan usaha pada tablet
Ilustrasi/Jatimverse.id

Ajakan di Hari Tani Nasional

Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi bersama Wakil Bupati Trihandy Cahyo Saputro mengajak petani setempat untuk “naik kelas” menjadi pengusaha modern.

Ajakan ini disampaikan dalam temu wicara dan gelar produk unggulan pertanian memperingati Hari Tani Nasional ke-66 di Pendopo KRT Sosrokoesoemo.

Gagasan ini dinilai relevan karena petani sering berada pada mata rantai dengan daya tawar paling lemah.

Mereka menanggung risiko cuaca dan produksi, namun kerap menjual hasil panen saat harga sedang turun.

Arti “Naik Kelas” bagi Petani

Menjadi pengusaha modern tidak berarti setiap petani harus mendirikan perusahaan sendiri.

Transformasi dapat dimulai dari hal sederhana seperti mencatat biaya produksi dan merencanakan musim tanam dengan lebih matang.

Pembelian sarana produksi secara bersama-sama dan penjualan kolektif melalui kelompok tani juga menjadi bagian dari langkah ini.

Pencatatan biaya benih, pupuk, tenaga kerja, dan harga jual membantu petani menghitung margin keuntungan yang sebenarnya.

Tantangan Nilai Tambah Produk

Nilai tambah sebuah produk pertanian tidak otomatis muncul hanya dengan mengganti kemasan menjadi lebih menarik.

Komoditas perlu memenuhi standar mutu yang konsisten, keamanan pangan, dan jadwal pasokan sesuai kebutuhan pembeli.

Untuk produk segar, ketersediaan gudang, pengering, dan rantai dingin sangat menentukan berapa banyak hasil yang bisa dijual.

Pemerintah daerah dapat berperan menyediakan pelatihan dan infrastruktur pendukung bagi petani.

Soal Pembiayaan yang Rawan

Pembiayaan menjadi salah satu titik paling rawan dalam transformasi petani menjadi pengusaha.

Kredit produktif memang bisa membantu petani membeli alat atau modal kerja tambahan.

Namun skema cicilan idealnya disesuaikan dengan siklus panen agar tidak memberatkan petani di masa paceklik.

Perempuan tani dan penggarap lahan tanpa sertifikat juga perlu mendapat akses pembiayaan yang setara.

Mengukur Keberhasilan Program

Pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah komoditas apa yang menjadi prioritas Nganjuk dan berapa banyak petani yang akan didampingi.

Keberhasilan program idealnya diukur bukan dari jumlah pelatihan atau produk yang dipamerkan semata.

Kenaikan pendapatan bersih petani menjadi indikator yang jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar seremoni.

Pemerintah daerah juga perlu membuka mekanisme pengaduan bila ada masalah dalam kontrak atau kualitas layanan pendampingan.

Harapan dari Gelar Produk

Gelar produk unggulan yang digelar bersamaan dengan temu wicara ini dapat menjadi pintu pertemuan petani dengan pasar yang lebih luas.

Namun hasilnya perlu terus dilacak setelah acara selesai, termasuk berapa kesepakatan dagang yang benar-benar berjalan.

“Naik kelas” akan menjadi nyata bila petani memiliki posisi tawar dan menguasai informasi harga pasar.

Akses informasi harga harian yang mudah dipahami melalui penyuluh dan saluran digital akan sangat membantu petani Nganjuk ke depannya.

Akses informasi yang setara ini juga akan mengurangi ketergantungan petani pada satu pembeli saja.

Wilayah: Mataraman