Antrean kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, sempat mengular hingga 17 kilometer, didominasi armada logistik. PT ASDP Indonesia Ferry mengoperasikan 26 kapal dan mengubah pengaturan bongkar muat secara dinamis untuk memulihkan layanan.
Penumpukan Tiga Hari
Langkah ini ditujukan mempercepat pemulihan arus Ketapang-Gilimanuk setelah penumpukan selama tiga hari yang dikaitkan dengan gangguan operasional sebelumnya dan tingginya muatan kendaraan over-dimension over-load.
Menambah kapal bisa meningkatkan kapasitas, tetapi pelabuhan bekerja sebagai satu sistem. Kecepatan layanan ditentukan oleh kesiapan dermaga, waktu sandar, dan proses pemeriksaan tiket serta kendaraan.
Dampak yang Melampaui Sopir
Dampak antrean melampaui sopir dan perusahaan angkutan. Warga di sepanjang jalur menghadapi akses rumah dan usaha yang terhalang, kebisingan, dan risiko kecelakaan lalu lintas.
Pengemudi membutuhkan tempat istirahat, air bersih, toilet, dan informasi estimasi waktu tunggu. Muatan pangan yang mudah rusak bisa kehilangan nilai akibat lamanya antrean seperti ini.
Jadwal distribusi barang dari dan menuju Bali turut terganggu selama proses pemulihan arus penyeberangan berlangsung.
Soal Muatan ODOL
Kendaraan over-dimension over-load disebut sebagai salah satu faktor penyebab kemacetan. Muatan berlebih bisa memperlambat proses dan menimbulkan risiko keselamatan di jalan maupun pelabuhan.
Penanganannya harus konsisten dari hulu, bukan baru dilakukan saat kendaraan tiba di pelabuhan, melalui koordinasi dengan perusahaan logistik dan pengelola jembatan timbang.
Komunikasi Jadi Bagian Operasi
Pengemudi perlu mengetahui kapan waktu berangkat, di mana kantong parkir tersedia, dan berapa perkiraan waktu layanan. Informasi yang berubah harus disampaikan lewat kanal resmi dan papan informasi di rute sebelum Ketapang.
Polisi dan pemerintah daerah perlu menjaga simpang-simpang penting agar antrean pelabuhan tidak melumpuhkan mobilitas warga setempat.
Evaluasi Jangka Panjang
Setelah antrean terurai, ASDP dan regulator perlu mempublikasikan evaluasi menyeluruh, mulai dari penyebab gangguan hingga langkah pencegahan ke depan.
Operasi 26 kapal adalah respons darurat yang penting, tetapi keberhasilan jangka panjang ditentukan sistem reservasi, pengendalian ODOL, dan rencana kontingensi yang mampu mencegah antrean puluhan kilometer terulang kembali.
Kantong parkir penyangga yang dilengkapi sistem antrean adil juga bisa mengurangi beban jalan utama tanpa memindahkan kemacetan ke titik lain.
Sistem digital dapat membantu proses ini, tetapi tetap perlu prosedur manual cadangan ketika jaringan terganggu, agar kemacetan tidak berpindah dari gerbang pelabuhan ke layar aplikasi warga.
Warga dan pelaku usaha di jalur Ketapang berharap evaluasi menyeluruh ini benar-benar ditindaklanjuti, bukan sekadar respons darurat yang dilupakan begitu antrean panjang terurai.
Koordinasi lintas instansi antara ASDP, kepolisian, dan pemerintah daerah Banyuwangi akan menentukan apakah pelabuhan penyeberangan tersibuk ini siap menghadapi lonjakan arus serupa pada masa-masa mendatang.
Bagi pengemudi logistik yang menempuh jalur ini setiap hari, kepastian jadwal dan perlakuan yang adil jauh lebih berarti daripada janji perbaikan yang tidak disertai bukti di lapangan.



