1.525 Kilometer Rel dan 138 Perjalanan Harian
Jaringan perkeretaapian Jawa Timur membentang sepanjang 1.525 kilometer dan menopang 138 perjalanan kereta setiap hari.
Data ini disampaikan pada peringatan Hari Kereta Api Nasional ke-81 tanggal 28 September 2026 pukul 09.09 WIB.
Angka tersebut menunjukkan besarnya peran kereta api dalam menghubungkan pusat ekonomi, pendidikan, pariwisata, dan permukiman di Jawa Timur.
Dari total panjang jaringan itu, 910 kilometer disebut masih aktif dan 615 kilometer sudah nonaktif, dengan 123 stasiun tersebar di berbagai wilayah.
Sebaran Perjalanan di Tiga Wilayah Kerja
Perjalanan harian kereta terbagi ke tiga wilayah kerja operasional: 40 perjalanan di Daop 7 Madiun, 80 di Daop 8 Surabaya, dan 18 di Daop 9 Jember.
Skala operasional sebesar itu membuat kualitas layanan harus diukur dari pengalaman penumpang sehari-hari.
Informasi perjalanan, ketepatan waktu, akses menuju peron, toilet, dan ruang tunggu perlu dapat digunakan oleh semua kalangan penumpang.
Bantuan petugas bagi anak, lansia, penyandang disabilitas, serta penumpang dengan kebutuhan khusus juga menjadi bagian penting dari layanan ini.
999 Perlintasan Sebidang, 182 Belum Dijaga
Keselamatan di titik perlintasan sebidang menjadi persoalan besar bagi jaringan kereta di Jawa Timur.
Data Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Surabaya per 7 Mei 2026 mencatat ada 999 perlintasan sebidang di seluruh Jawa Timur.
Dari jumlah itu, 916 perlintasan sudah terdaftar secara resmi, sementara 83 perlintasan lainnya belum terdaftar.
Dari perlintasan yang sudah terdaftar tersebut, sebanyak 182 titik disebut tidak dijaga oleh petugas.
Angka ini menunjukkan bahwa pembangunan jalur dan penambahan perjalanan kereta perlu disertai penanganan titik pertemuan rel dengan jalan raya.
Rencana Surabaya Regional Railway Line
Rencana Surabaya Regional Railway Line menambah dimensi baru bagi pengembangan perkeretaapian di Jawa Timur.
Fase 1A rencana ini mencakup elektrifikasi koridor Sidoarjo-Gubeng dan Depo Sidotopo sepanjang sekitar 30 kilometer.
Rencana itu juga mencakup peningkatan lima stasiun, pembangunan fasilitas listrik, serta perbaikan sistem persinyalan dan telekomunikasi.
Penanganan 44 perlintasan sebidang dan desain tiga jalan layang turut masuk dalam rencana pengembangan ini.
Jadwal desain rinci ditargetkan rampung pada triwulan pertama 2027, dilanjutkan proses lelang pada pertengahan tahun yang sama.
Layanan Inklusif dan Keselamatan Tak Terpisahkan
Daftar 182 perlintasan tak dijaga dan status 83 perlintasan belum terdaftar perlu terus dipantau dan diperbarui.
Data kecelakaan, volume kendaraan, kepadatan perjalanan, serta kedekatan dengan sekolah atau permukiman dapat membantu menentukan urgensi penanganan.
Pemerintah daerah juga perlu menjelaskan pembagian tanggung jawab pemeliharaan palang, pos jaga, dan petugas di setiap titik perlintasan.
Layanan kereta yang inklusif dan aman tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Penumpang baru memperoleh manfaat penuh ketika stasiun mudah diakses, antarmoda terhubung, dan perjalanan tidak menambah risiko bagi warga di sekitar rel.



