Dinas Kesehatan Jawa Timur menyampaikan pembaruan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) saat berkunjung ke Kabupaten Tulungagung, Minggu, 27 September.
Kepala Dinkes Jatim Erwin Astha Triyono menyebut jumlah kasus ISPA pada Agustus 2026 mencapai sekitar 211 ribu.
Naik dari Rata-Rata Bulan Sebelumnya
Angka itu lebih tinggi dibanding rata-rata 117 ribu kasus per bulan pada 2025.
Pada pertengahan 2026, rata-rata kasus per bulan tercatat sekitar 148 ribu.
Perbandingan ini menunjukkan tren kenaikan dalam data yang disampaikan dinas kesehatan provinsi.
ISPA Bukan Satu Penyakit Tunggal
ISPA adalah kelompok keluhan dan diagnosis yang dapat berkaitan dengan berbagai penyebab, mulai dari virus, bakteri, hingga kuman lain.
Penularannya terjadi lewat udara serta percikan saat penderita batuk atau bersin.
Karena cakupannya luas, angka bulanan ini menggambarkan banyak kasus dengan sumber penularan yang berbeda-beda, bukan satu wabah dengan satu sumber.
Dikaitkan dengan Musim Kemarau
Dinkes Jatim mengaitkan puncak kasus dengan peningkatan suhu pada musim kemarau.
Paparan asap, kepadatan ruang, kebiasaan merokok, kondisi tempat kerja, dan sirkulasi udara turut memengaruhi risiko penularan di berbagai daerah.
Layanan Kesehatan Dinilai Masih Siap
Dinkes menyatakan layanan kesehatan masih dapat menangani pasien dan stok obat dinilai cukup.
Karena itu, pemerintah provinsi belum menetapkan kondisi ini sebagai kejadian luar biasa.
Meski status administratif belum ditetapkan sebagai kejadian luar biasa, warga dengan gejala berat atau penyakit penyerta tetap disarankan memeriksakan diri ke tenaga kesehatan, terutama kelompok rentan seperti lansia dan ibu hamil.
Pesan Pencegahan dari Dinkes
Dinkes Jatim mengimbau warga menerapkan etika batuk, istirahat cukup, menjaga nutrisi, dan menghindari asap rokok.
Langkah-langkah sederhana itu disebut dapat membantu menekan penyebaran ISPA di tengah musim kemarau yang masih berlangsung.
Yang Perlu Dipantau Selanjutnya
Angka kasus Agustus ini menjadi sinyal bagi Dinkes Jatim untuk memperkuat komunikasi risiko kepada masyarakat.
Publikasi tren kasus pada September mendatang akan menunjukkan apakah angka ISPA di Jawa Timur mulai turun, menetap, atau justru masih meningkat.
Perlu Data yang Lebih Terperinci
Peta kasus ISPA per kabupaten dan kota akan membantu warga menilai situasi di daerah masing-masing secara lebih jelas.
Kelompok umur, wilayah, dan jenis diagnosis menjadi faktor yang membedakan tingkat risiko setiap orang terhadap ISPA.
Warga yang mengalami gejala berat, terutama batuk berkepanjangan atau sesak napas, disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Kewaspadaan bersama, ditambah kepatuhan terhadap anjuran kesehatan dari Dinkes, menjadi kunci menekan angka ISPA pada bulan-bulan mendatang.
Fasilitas kesehatan di tingkat kecamatan diharapkan dapat mencatat data kasus secara lebih rapi agar tren bulanan dapat dipantau lebih akurat oleh dinas kesehatan provinsi.
Edukasi kesehatan di sekolah dan tempat kerja juga dapat membantu menekan penyebaran ISPA selama musim kemarau masih berlangsung di Jawa Timur.



