Sejumlah pengunjung terlihat memetik melon varietas Himura di sebuah agrowisata di Kabupaten Trenggalek.
Agrowisata tersebut dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa Karangsoko.
Harga dan Skema Bagi Hasil
Berdasarkan keterangan yang beredar, harga jual melon ini berkisar antara Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram.
Pengelolaan lahan agrowisata ini menggunakan skema bagi hasil dengan perbandingan 80 banding 20.
Skema tersebut berlaku antara petani pengelola lahan dan pemerintah desa setempat.
Model kerja sama ini menjadi salah satu bentuk pemberdayaan ekonomi warga melalui BUMDes.
Pengalaman Langsung di Lahan Pertanian
Wisata petik memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung untuk melihat langsung proses produksi pangan.
Pengunjung dapat merasakan sensasi memanen sendiri buah melon segar langsung dari kebunnya.
Konsep wisata seperti ini sekaligus membuka saluran penjualan langsung bagi petani tanpa melalui banyak perantara.
Belum Bisa Disimpulkan dari Satu Laporan
Informasi yang beredar saat ini berasal dari satu laporan foto pada tanggal tertentu.
Luas kebun, total hasil panen secara keseluruhan, hingga kapasitas pengunjung belum dapat disimpulkan hanya dari laporan tersebut.
Pendapatan desa dari skema bagi hasil ini juga belum dapat dihitung secara pasti tanpa data lebih lanjut.
Musim panen turut menentukan apakah buah melon ini tersedia setiap hari atau hanya pada periode tertentu saja.
Cuaca dan kondisi tanah pada musim tanam berikutnya juga akan memengaruhi kualitas serta jadwal panen melon di agrowisata ini.
Perlu Konfirmasi Sebelum Berkunjung
Calon pengunjung disarankan mengonfirmasi lokasi tepat, jam buka, dan sistem reservasi kepada pengelola sebelum datang.
Harga terbaru, fasilitas yang tersedia, serta keamanan selama kunjungan juga perlu dipastikan langsung ke BUMDes Karangsoko.
Rincian mengenai makna skema bagi hasil 80:20 secara detail juga sebaiknya ditanyakan langsung kepada pengelola agrowisata.
Harga yang tercantum pada tanggal foto diambil tidak dapat dianggap berlaku secara permanen tanpa konfirmasi lebih lanjut.
Dengan konsep wisata petik yang menarik ini, agrowisata BUMDes Karangsoko berpotensi menjadi salah satu destinasi alternatif bagi warga Trenggalek dan sekitarnya yang ingin menikmati suasana pertanian secara langsung.
Agrowisata sebagai Penggerak Ekonomi Desa
Pengembangan agrowisata berbasis BUMDes semakin banyak ditemukan di berbagai desa di Jawa Timur.
Model ini dinilai efektif untuk menggerakkan ekonomi desa sekaligus memberdayakan petani lokal secara langsung.
Skema bagi hasil antara petani dan pemerintah desa diharapkan dapat memberi keadilan bagi kedua belah pihak yang terlibat.
Keberhasilan agrowisata semacam ini juga bergantung pada konsistensi kualitas produk serta pelayanan kepada pengunjung.
Promosi melalui media sosial maupun liputan media massa turut membantu memperkenalkan destinasi ini kepada khalayak yang lebih luas.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek diharapkan terus mendukung pengembangan desa wisata semacam ini agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh warga.



