Ubaya Dorong Pemeriksaan Faktor Risiko Demensia Sejak Usia 40

Oleh Redaksi 3 mnt baca
Ilustrasi konseptual pemeriksaan faktor risiko demensia sejak usia 40 tahun
Ilustrasi/Jatimverse.id

Universitas Surabaya mendorong masyarakat memeriksakan faktor risiko demensia sejak usia 40 tahun.

Sejumlah faktor yang disebutkan meliputi tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol.

Pemeriksaan Kognitif Bisa Dimulai Lebih Awal

Pemeriksaan fungsi kognitif disebut dapat dimulai pada usia pra-lansia, yakni sekitar 45 tahun ke atas.

Deteksi dini pada rentang usia ini diharapkan mampu mengenali perubahan yang mungkin terjadi lebih awal.

Langkah ini penting mengingat demensia sering kali berkembang secara bertahap sebelum gejalanya benar-benar disadari.

Ratusan Peserta Ikuti Skrining

Ubaya menggelar kegiatan skrining dalam rangkaian peringatan Alzheimer Awareness Month.

Sekitar 95 orang tercatat mengikuti kegiatan skrining yang diselenggarakan kampus tersebut.

Partisipasi ini menunjukkan adanya perhatian masyarakat terhadap isu kesehatan kognitif di usia paruh baya.

Bukan Diagnosis, Melainkan Deteksi Dini

Pemeriksaan faktor risiko ini perlu dipahami sebagai langkah deteksi dini, bukan sebagai diagnosis demensia.

Tujuan utamanya adalah mengenali hal-hal yang masih dapat dikelola lebih awal oleh individu.

Tekanan darah tinggi, diabetes, kurangnya aktivitas fisik, dan isolasi sosial menjadi beberapa faktor yang disebut berkaitan dengan risiko ini.

Perbaikan gaya hidup pada faktor-faktor tersebut diyakini dapat membantu menekan risiko di kemudian hari.

Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar turut berperan penting dalam membantu seseorang menjaga kebiasaan hidup sehat sejak usia paruh baya.

Konsultasi ke Tenaga Kesehatan Tetap Diperlukan

Orang yang mengalami keluhan terkait daya ingat maupun fungsi kognitif disarankan berkonsultasi kepada tenaga kesehatan.

Penilaian yang sesuai dari profesional medis tetap diperlukan untuk memastikan kondisi masing-masing individu.

Klaim persentase risiko dari pedoman internasional sebaiknya ditautkan langsung ke dokumen aslinya dan tidak diterapkan sebagai diagnosis pribadi.

Jadwal dan syarat layanan skrining di Ubaya juga sebaiknya dikonfirmasi langsung sebelum masyarakat berkunjung untuk mengikuti pemeriksaan serupa.

Dengan mendorong kesadaran sejak usia 40 tahun, Ubaya berharap semakin banyak warga Surabaya yang lebih peduli terhadap kesehatan otak mereka di masa mendatang.

Kesadaran ini diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan skrining, melainkan berlanjut menjadi kebiasaan memantau kesehatan secara rutin.

Kesehatan Otak Jadi Perhatian Bersama

Isu kesehatan otak dan risiko demensia semakin banyak dibicarakan seiring bertambahnya usia harapan hidup masyarakat.

Perguruan tinggi seperti Ubaya memiliki peran penting dalam menyebarluaskan edukasi kesehatan kepada masyarakat umum.

Kegiatan skrining semacam ini biasanya melibatkan tenaga medis dan mahasiswa kedokteran sebagai bagian dari pengabdian masyarakat.

Keluarga juga disebut memiliki peran penting dalam mendukung anggota keluarga yang berusia paruh baya untuk menjaga pola hidup sehat.

Pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, serta interaksi sosial yang aktif diyakini turut membantu menjaga fungsi kognitif seiring bertambahnya usia.

Ubaya berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkala untuk menjangkau lebih banyak warga Surabaya di masa mendatang.

Wilayah: Surabaya Raya