Persela dan Toserba Sunan Drajat Buka Ruang bagi UMKM Lamongan

Kerja sama Persela Lamongan dengan Toserba Sunan Drajat membuka peluang UMKM lokal masuk ekosistem klub, mulai dari jualan atribut sampai produk sendiri.

Oleh Redaksi 2 mnt baca
Ilustrasi/Jatimverse.id
Ilustrasi/Jatimverse.id

Kerja sama Persela Lamongan dengan Toserba Sunan Drajat membuka pembicaraan soal ekonomi di sekitar klub. Toko ini disebut bisa jadi tempat penjualan atribut klub—jersey, pernak-pernik, sampai tiket—sekaligus ruang bagi UMKM lokal untuk ikut memasarkan produknya. Fokus liputan ini bukan promosi toko, melainkan bagaimana klub sepak bola daerah bisa memberi ruang bagi suporter, pedagang, dan produk lokal di luar sembilan puluh menit pertandingan.

Peluang yang Masih Perlu Diperjelas

Kata “berpeluang” perlu dibaca hati-hati—belum ada daftar syarat kemitraan, biaya, jumlah gerai, atau target penjualan yang resmi diumumkan. Jadi belum semua pengusaha yang berminat otomatis bisa langsung gabung.

Basis Suporter yang Menjanjikan

Persela punya basis penonton yang bisa menghidupkan ekonomi sekitar stadion. Laga perdana Championship melawan Persis Solo pada 13 September tercatat terjual habis 10.600 tiket, dengan pedagang ramai berjualan di sekitar Stadion Surajaya. Tapi omzet tiap pedagang tetap berbeda-beda tergantung lokasi, jenis produk, cuaca, dan jadwal laga—jumlah penonton nggak bisa langsung dikalikan jadi pendapatan pasti.

Dukungan sponsor terhadap klub adalah hubungan komersial yang lazim dalam olahraga, dan liputan ini tetap independen dari hubungan itu—nama disebut karena relevan dengan fakta kerja sama, bukan sebagai promosi berbayar. Ke depan, yang perlu dipantau adalah berapa banyak pelaku usaha lokal yang benar-benar terlibat, bagaimana pembagian hasil dan penanganan barang yang tidak laku, dan apakah pedagang di luar kanal resmi tetap kebagian ruang atau justru tergeser.

Manajemen Persela bisa diminta menjelaskan berapa banyak pelaku usaha lokal sudah terlibat sejauh ini dan bagaimana proses seleksi produk resmi yang dijual di toko. Toserba sendiri idealnya juga membuka informasi soal skema bagi hasil dan penanganan barang yang tidak laku terjual. Dengan begitu, publik bisa menilai manfaat kerja sama ini secara konkret, bukan cuma dari janji sinergi yang masih berupa rencana di atas kertas.

Warga Lamongan yang tertarik menjadi mitra UMKM di ekosistem Persela bisa mulai dengan menghubungi langsung manajemen klub atau pengelola Toserba Sunan Drajat untuk menanyakan mekanisme pendaftaran yang berlaku, alih-alih menunggu pengumuman resmi yang detailnya belum lengkap. Langkah proaktif semacam ini bisa membantu pelaku usaha kecil lebih dulu masuk daftar antrean begitu program kemitraan benar-benar dibuka secara resmi.

Jatimverse.id akan menindaklanjuti kabar ini begitu mekanisme kemitraan resmi diumumkan, supaya pelaku UMKM Lamongan yang berminat punya panduan yang jelas soal cara bergabung ke ekosistem Persela ini.

Kabar kemitraan semacam ini juga bisa jadi contoh bagi klub-klub lain di Jawa Timur untuk mulai membuka ruang serupa bagi UMKM lokal di sekitar stadion masing-masing, asal dijalankan dengan transparansi yang memadai.

Wilayah: Pantura