Pemerintah Provinsi Jawa Timur ingin memperluas peluang produk daerah masuk rantai pasok kebutuhan jamaah haji dan umrah di Arab Saudi. Gubernur Khofifah Indar Parawansa membahas ini saat bertemu Konsul Jenderal RI di Jeddah pada 24 September. Buat pelaku UMKM, kabar ini menarik karena pasar jamaah datang berulang tiap musim—tapi pertemuan penjajakan belum sama dengan kontrak pembelian baru.
Baru Tiga Pemasok, Bukan Kepastian buat Semua
Makanan siap santap dari tiga pelaku usaha Jawa Timur disebut sudah memasok kebutuhan jamaah haji, dan pemerintah ingin memperluas jangkauan ke kebutuhan umrah. Jumlah ini penting dibaca dengan tepat: itu contoh pemasok yang sudah berjalan, bukan gambaran keseluruhan eksportir Jatim. Potensi lain yang dibicarakan mencakup tuna sirip kuning dari Sendang Biru (Kabupaten Malang) dan produk olahan ikan dari Banyuwangi, menunjukkan sebaran peluang di luar Surabaya.
Yang Menentukan Peluang Ini Bisa Digarap atau Tidak
Rantai dingin, ketertelusuran produk, standar mutu, dan jadwal pengiriman akan menentukan apakah peluang ini bisa dijalankan konsisten. KJRI Jeddah disebut siap mempertemukan pelaku usaha Jatim dengan mitra di Arab Saudi, tapi pengusaha tetap perlu menyesuaikan produk dengan kebutuhan pembeli.
Buat UMKM yang tertarik, hal paling penting untuk ditanyakan adalah apakah akses akan langsung atau lewat agregator, serta berapa biaya persiapan yang dibutuhkan sebelum bisa ikut program ini. Kepastian pembayaran, standar kemasan, dan volume pesanan sama pentingnya dengan peluang bertemu calon pembeli—tanpa itu, usaha kecil sulit menghitung modal kerja.
Pertemuan di Jeddah itu turut membahas akses layanan keuangan bagi pekerja migran Indonesia, topik berbeda dari urusan ekspor produk meski sama-sama melibatkan diaspora Jatim di Arab Saudi. Buat pelaku usaha pangan dan perikanan, pertanyaan lanjutan yang masih terbuka adalah siapa saja tiga pemasok yang sudah berjalan, produk apa yang dibeli, apakah ada mekanisme seleksi yang terbuka untuk pemasok baru, dan kapan kerja sama tambahan mungkin terwujud.
Bagi UMKM pangan olahan yang berminat menjajaki pasar haji dan umrah, langkah awal yang realistis adalah memastikan sertifikasi halal dan standar keamanan pangan sudah terpenuhi, karena syarat ini biasanya jadi pintu masuk pertama sebelum negosiasi volume dan harga dimulai. Kesiapan dokumen dan uji kelayakan produk jauh lebih menentukan peluang tembus pasar ini dibanding sekadar mengikuti forum pertemuan bisnis.
Jatimverse.id akan mengikuti perkembangan kerja sama ini hingga ada kesepakatan konkret antara pelaku usaha Jatim dan mitra di Arab Saudi, termasuk memastikan peluang ini benar-benar terbuka bagi UMKM kecil, bukan cuma perusahaan besar yang sudah mapan.
Pelaku usaha yang membutuhkan pendampingan soal standar ekspor bisa menghubungi dinas perdagangan atau koperasi UMKM setempat untuk mendapat arahan awal sebelum mengajukan diri sebagai calon pemasok ke pasar haji dan umrah ini.



