Dekranasda Kabupaten Lamongan mendorong pengembangan batik yang punya karakter daerah sekaligus nilai jual.
Pertanyaannya: gimana caranya motif khas berubah jadi pesanan yang stabil, bukan cuma dipajang saat acara seremonial? Nilai jual tidak bisa diukur dari pujian atas desain saja—ia harus terlihat pada harga yang diterima perajin setelah bahan, tenaga, dan pemasaran dihitung.
Nilai Jual Dimulai dari Proses
Batik punya banyak tahapan—rancang motif, pengerjaan kain, pewarnaan, pengeringan, sampai penjualan. Tiap tahap punya biaya dan keterampilan berbeda. Batik tulis, cap, dan produk bermotif batik teknik lain nggak bisa dibandingkan harganya begitu saja. Konsumen perlu tahu apa yang mereka bayar, perajin perlu ruang menjelaskan waktu kerja dan kualitas tanpa harus banting harga demi bersaing.
Peluang Buat Anak Muda
Identitas Lamongan bisa jadi pembeda kalau motif, cerita, dan kualitasnya konsisten. Tapi kekhasan visual saja nggak otomatis menciptakan pasar—pelaku usaha perlu tahu siapa pembelinya, berapa volume yang mampu dipenuhi, dan apakah pesanan musiman bisa berubah jadi pembelian berulang.
Buat anak muda yang mau masuk usaha kreatif, peluangnya bukan cuma bikin motif baru—fotografi produk, pengemasan, administrasi pesanan, sampai pemasaran digital juga bisa jadi jalan masuk.
Dekranasda bisa berperan menghubungkan perajin dengan pembeli lewat katalog produk dan pelatihan yang sesuai kebutuhan lapangan.
Yang perlu dipantau ke depan: apakah program semacam ini benar-benar terukur dari harga kain sebelum-sesudah, lama produksi, dan berapa bagian nilai jual yang sampai ke tangan perajin—bukan cuma dari jumlah lokakarya yang digelar.
Liputan lapangan berikutnya idealnya mendatangi langsung sedikitnya dua perajin dengan skala usaha berbeda, menanyakan harga kain sebelum dan sesudah proses produksi, lama pengerjaan, kendala bahan baku, hingga bagian nilai penjualan yang benar-benar mereka terima.
Perbandingan semacam itu jauh lebih berguna buat pembaca dibanding sekadar menyebut sebuah produk “berpotensi”. Kalau ada program pelatihan dari pemerintah, jumlah peserta dan hasil penjualan sesudahnya juga layak dicatat, bukan cuma jumlah lokakarya yang digelar.
Pembeli yang tertarik mendukung perajin batik Lamongan bisa mulai dengan membeli langsung dari sentra produksi atau pameran resmi Dekranasda, sehingga sebagian besar nilai belanja benar-benar sampai ke tangan perajin, bukan tertahan di rantai distribusi yang panjang.
Cara ini juga memberi kesempatan pembeli bertanya langsung soal proses pembuatan, ketahanan warna, dan cara perawatan kain batik yang dibeli.
Jatimverse.id berencana menindaklanjuti kabar ini dengan liputan langsung ke sentra batik Lamongan, supaya klaim soal nilai jual dan karakter khas daerah ini bisa dibuktikan lewat cerita dan angka dari perajin sendiri, bukan cuma pernyataan Dekranasda.
Redaksi juga membuka ruang bagi perajin batik Lamongan yang ingin cerita usahanya diangkat lebih detail di Jatimverse.id, sebagai bagian dari dukungan liputan ekonomi kreatif daerah.



