Sebanyak 45 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di kawasan selingkar Ijen mengikuti kegiatan InJourney Creativity House 2026 yang diberitakan pada 24 September 2026.
Pelatihan ini menyoroti kreativitas, kemasan, dan pengelolaan usaha. Kedekatan dengan tujuan wisata memberi peluang pasar bagi produk lokal, tetapi peserta tidak otomatis memperoleh kenaikan penjualan begitu kelas usai — kuncinya justru pada apakah pengetahuan itu benar-benar dipakai dalam produksi, dipahami pembeli, dan bisa dijalankan dengan biaya yang masuk akal.
Kemasan sebagai Titik Temu Pertama
Kemasan sering menjadi titik temu pertama antara produk dan pembeli yang tidak mengenal pembuatnya.
Label yang mudah dibaca, isi yang terlindungi, dan ukuran yang praktis dibawa pulang membantu pengalaman belanja.
Namun desain baru tetap harus dihitung bersama harga bahan, ongkos cetak, daya tahan produk, dan ketentuan label sesuai jenis barang — kemasan yang tampak menarik tapi terlalu mahal justru bisa menggerus margin usaha kecil.
Pelajaran keuangan sama pentingnya. Pelaku usaha perlu bisa membedakan omzet, biaya produksi, dan laba bersih, sebab pesanan yang ramai tidak selalu berarti usaha berkembang bila ongkos bahan baku, tenaga, distribusi, dan kemasan ikut naik.
Catatan transaksi yang rapi membantu menentukan harga dan melihat produk mana yang paling menguntungkan, terutama bagi usaha musiman di sekitar destinasi wisata yang penjualannya berbeda antara hari biasa dan masa ramai kunjungan.
Jejaring Alumni dan Tantangan Kapasitas
Keterlibatan alumni dapat membantu membuka jejaring pemasok, mentor, dan calon mitra usaha — nilai pendidikan dari acara ini sebenarnya terletak pada proses setelah meja pameran dibongkar: apakah tim mencatat biaya secara teratur, menindaklanjuti calon pelanggan, dan mengurus perizinan yang relevan.
Produk lokal juga bisa bertemu calon pembeli lewat toko, penginapan, ruang pamer, atau penjualan daring, meski setiap jalur punya syarat berbeda soal konsistensi pasokan dan pengiriman.
Jumlah 45 peserta menunjukkan jangkauan kegiatan pada tahap awal, bukan jumlah usaha yang sudah naik kelas.
Ukuran tindak lanjut yang lebih bermakna adalah berapa peserta yang memperbaiki label, menghitung harga pokok dengan benar, memperoleh pembeli baru, atau mempertahankan penjualan setelah beberapa bulan berlalu — sehingga pelatihan ini benar-benar menjadi cerita ekonomi warga Banyuwangi yang bisa diuji, bukan hanya catatan bahwa sebuah acara telah berlangsung.
Harapan untuk Pendampingan Lanjutan
Bagi pelaku usaha yang mengikuti pelatihan ini, langkah paling realistis setelah kelas selesai adalah memilih satu atau dua perbaikan kecil untuk dicoba lebih dulu — misalnya mengganti label atau mulai mencatat pengeluaran harian — sebelum mengubah seluruh cara berbisnis sekaligus.
Perubahan bertahap yang konsisten biasanya lebih mudah dipertahankan dibanding perombakan besar yang sulit diikuti di tengah kesibukan usaha sehari-hari, terutama bagi pelaku usaha musiman di kawasan wisata Ijen.



