Pompa Tenaga Surya Gede Taninya di Sumenep, Janji Air untuk Pertanian Perlu Diukur

Oleh Redaksi 3 mnt baca
Ilustrasi pompa air tenaga surya untuk irigasi pertanian di Sumenep
Ilustrasi/Jatimverse.id

Pemerintah Kabupaten Sumenep mengaitkan program Gede Taninya dengan upaya meningkatkan produksi pertanian melalui pompa air bertenaga surya, seperti diberitakan pada 24 September 2026.

Persoalan air memang kerap menentukan apakah petani bisa mempertahankan tanaman pada musim kering, dan teknologi pompa surya berpotensi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar untuk mengalirkan air.

Meski begitu, manfaat ekonominya tetap bergantung pada ketersediaan sumber air, kapasitas alat, luas lahan, dan biaya perawatan.

Energi Baru, Bukan Sumber Air Baru

Panel surya menghasilkan energi untuk menjalankan pompa saat penyinaran memungkinkan — tetapi energi itu bukan sumber air baru.

Jika sumur, embung, atau sumber air lain menyusut, pemasangan pompa saja tidak cukup menjamin irigasi.

Karena itu evaluasi program idealnya dimulai dari peta lokasi: desa penerima, jenis sumber air, kelompok tani pengguna, dan lahan yang benar-benar terjangkau, karena petani di satu hamparan bisa mendapat hasil berbeda dari petani di hamparan lain meski memakai perangkat yang sama.

Dari sisi usaha tani, biaya menjadi ukuran penting. Sebelum alat dipasang, petani mungkin membayar bahan bakar atau sewa pompa untuk mengairi lahan; sesudahnya, pengeluaran bisa berubah menjadi biaya perawatan panel, penggantian komponen, dan pipa.

Perbandingan yang adil perlu menghitung musim tanam yang sama dan volume air yang sebanding — tanpa data itu, klaim penghematan atau kenaikan hasil panen masih sebatas harapan.

Aturan Bersama dan Ukuran Keberhasilan

Penggunaan bersama pompa membutuhkan aturan yang bisa diterima semua anggota kelompok tani: giliran mengairi lahan, iuran perawatan, dan langkah ketika debit air turun.

Jika petak dekat pompa lebih mudah mendapat aliran dibanding petak jauh, manfaat program bisa jadi tidak merata — sehingga petani kecil perlu dilibatkan dalam penentuan jadwal, bukan hanya hadir dalam seremoni penyerahan alat.

Kenaikan produksi juga tidak semata ditentukan air, melainkan juga benih, pemupukan, hama, cuaca, dan harga jual.

Bila pemerintah menyebut keberhasilan program, indikatornya sebaiknya dipisah: jumlah pompa aktif, luas sawah yang mendapat air, perubahan biaya irigasi, dan hasil panen dibanding kondisi sebelum program berjalan — sehingga daerah lain yang ingin meniru pendekatan tenaga surya ini punya gambaran yang lebih utuh, bukan sekadar keberadaan panel di lahan.

Belajar dari Praktik Serupa di Daerah Lain

Pengalaman program irigasi tenaga surya di daerah lain di Indonesia menunjukkan bahwa keberlanjutan alat sering ditentukan oleh siapa yang bertanggung jawab merawatnya sehari-hari, bukan hanya siapa yang memasangnya.

Kelompok tani yang dilibatkan sejak tahap perencanaan cenderung lebih siap menghadapi kerusakan kecil tanpa menunggu bantuan teknis dari luar.

Sumenep dapat mengambil pelajaran itu agar pompa tenaga surya Gede Taninya benar-benar menjadi aset jangka panjang bagi petani setempat.

Wilayah: Madura